Dalam sebulan belakangan ini, perkembangan bahasa Ayesha (18 bulan) meningkat pesat.
Sebelumnya, Ayahnya khawatir Ayesha terlambat perkembangan bahasanya. Mungkin karena asupan bahasanya agak kurang (kami cuma tinggal berempat serumah, dan saya bukan Ibu yang cerewet), atau mungkin karena faktor dwibahasa (kami menggunakan bahasa Indonesia, sementara kakaknya, Anindya, dan lingkungan tempat tinggal kami menggunakan bahasa Inggris.
Ternyata perkembangan Ayesha baik-baik saja, hanya masalah waktu. Mungkin selama ini dia masih sibuk mengamati bagaimana kami bicara dan bagaimana kata-kata diucapkan. Sebulan terakhir ini Ayesha sudah bisa mengucapkan sendiri (tanpa menirukan) lebih dari tiga puluh kata-kata tunggal, baik dalam bahasa Indonesia maupun bahasa Inggris. Dan lebih banyak lagi kata-kata yang dia mengerti, meskipun dia belum bisa mengucapkannya.
Kami tidak secara sengaja mengajarkan kalimat tertentu dalam bahasa Inggris atau bahasa Indonesia, mana yang lebih mudah diucapkan saja. Misalnya, Ayesha lebih mengenal 'bird' daripada 'burung', 'ant' daripada 'semut'. Namun Ayesha menggunakan kata 'naik' daripada 'climb' dan 'perut' daripada 'stomach'. Kami kadang juga kaget sendiri ketika Ayesha tiba-tiba mengucapkan kata versi bahasa Inggris meskipun kami mengajarinya dalam bahasa Indonesia, misalnya: kami bilang 'topi' tapi akhirnya lebih suka bilang 'hat'. Mungkin kasus yang terakhir ini dia meniru Kakaknya.
Seperti bayi-bayi lainnya, kata pertama yang diucapkan Ayesha adalah 'Ma'. Saya sempat ge-er. Namun ternyata waktu itu (Ayesha kira-kira berusia 11 bulan) kata Ma yang diucapkannya tidak ada maknanya. Ayesha mengucapkan Ma untuk meminta sesuatu, apapun. Kata Ma diucapkan seperti rengekan. Selanjutnya Ayesha bilang 'mak-mak' untuk meminta ASI dari saya. Biasanya kata ini diucapkan sambil menepuk-nepuk dada saya.
Kata pertama Ayesha yang benar-benar ada maknanya adalah 'No'. Ini pasti dia dapat dari Kakaknya yang sering keras-keras bilang 'No' untuk menolak sesuatu. Kadang Ayesha bilang 'No' sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. Dengan senjata 'No' ini, Ayesha jadi keras kepala banget dan dengan tegas menolak apapun yang tidak dikehendakinya.
Selanjutnya adalah kata 'open'. Kata ini praktis sekali digunakan Ayesha untuk minta tolong membukakan sesuatu, seperti makanan, mainan, pintu atau buku. Kata yang mirip digunakan dengan 'open' adalah 'baca'. Ayesha sering sekali menghampiri kami dengan membawa buku kesayangannya dan mengatakan 'baca', meminta kami untuk membacakan cerita.
Dengan berbekal lima kata: Ma, Mak-mak, No, Open dan Baca, tampaknya Ayesha sudah puas dan bisa memenuhi kebutuhannya sehari-hari. Ini membuat perkembangan bahasanya terhenti. Sampai beberapa bulan tidak ada penambahan kata-kata baru, meskipun dalam komunikasi dengan kami, Ayesha semakin mengerti lebih banyak kata-kata.
Namun kemudian, kira-kira sebulan yang lalu, banyak sekali kata-kata yang keluar dengan jelas dari mulut Ayesha, seperti hujan deras yang dimuntahkan dari langit. Akhirnya dia bisa mengucapkan kata Daddy, Kakak dan Mama yang memang merujuk kepada kami. Kemudian dia menggunakan kata 'help' untuk minta tolong, bukan sekedar merengek 'ma'.
Ada kejadian lucu berkaitan dengan belajar bicara ini. Untuk mengajarinya bilang 'thank you', kami selalu mengucapkan 'thank you' setiap kali memberi Ayesha sesuatu. Hasilnya adalah: Ayesha bisa bilang 'thank you' yang kedengarannya seperti 'che-che' setiap kali dia memberikan sesuatu. Akhirnya kami diam saja ketika memberi Ayesha dan baru bilang 'thank you' ketika Ayesha memberi kami. Sekarang Ayesha bisa bilang 'thank you' di saat yang tepat.
Selain bicara, Ayesha sudah mulai bisa 'menyanyikan' beberapa lagu. Pengucapan liriknya memang masih berantakan, namun nadanya sudah benar. Lagu yang Ayesha bisa adalah Twinkle-twinkle Little Star, Ba-ba Black Sheep, Do-Re-Mi dalam Sounds of Music dan Humpty Dumpty. Untuk lagu If You're Happy, dia bisa melakukan gerakannya, tapi belum bisa nyanyinya.
Berikut adalah daftar kata-kata yang sudah bisa diucapkan secara mandiri oleh Ayesha. Kata benda: Mama, Dadda (maksudnya Daddy), Kakak, babba (maksudnya baby), bird, ant, ball, hat, shoes, pear, apple, cheese (maksudnya kamera), kaca, pop, perut, popok, kaki. Kata kerja dan sifat: open, help, press, bye, hot, pipis, eek, naik, close, baca, main, minta, ambil, habis, cuci, pakai, cantik.
Tentu saja, kata favoritnya tetap 'No'.
A.K.
 Setiap orang punya kelemahan. Saya: terobsesi dengan liburan.
He-who-can-not-be-named-in-this-blog has his ideal holiday like this: napping in his old bedroom after eating Rawon and Sambel Tempe Penyet, and then having afternoon tea with Mama and Bapak in their cozy dining room. Nice. I love that too (except that I don't eat Rawon). It just that I have my very own version of perfect holiday.
Versi saya: mengunjungi satu tempat baru (lebih sip lagi kalau negara baru), menginap di hotel (preferably beach front), makan enak tanpa harus memasak, dan leyeh-leyeh sementara anak-anak bermain sendiri (atau sama Bapaknya, hehehe).
Begitulah, awal tahun 2009, cita-cita saya dan dia-yang-tidak-boleh-disebut-namanya datang ke Sydney sama sekali berbeda. Dia kembali untuk mengejar phDnya, sementara saya kembali melunasi 'utang' jalan-jalan di Aussie. Pada masa-masa prihatin dua tahun pertama kami tinggal di Sydney, praktis kami belum pernah ke mana-mana di luar Sydney. Paling banter kami ke Blue Mountain dan Canberra. Melbourne? Belum. Gold Coast? Boro-boro. Brisbane? Mimpi Kali. Snowy Mountain saja belum. Saya masih snow-virgin nih.
Kegiatan utama saya di awal tahun kembali ke Sydney adalah berburu buku-buku lonely planet di Book Sale. Murah, sekitar $ 2 - $ 4. Dapat lumayan banyak, mulai dari Australia, NSW, Sydney, New Zealand, Japan, USA, Central America Tengah, bahkan Central Asia. Not that I want to go there. Central Asia I mean. To be honest, I have no idea where Central Asia is, before I found out it's the region of Afghanistan, Kazakhstan, Tajikistan and other -tans.
Tahun ini saya lebih banyak membaca buku-buku travelling daripada membaca novel. Saya jadi punya peta buta di kepala saya untuk kota-kota yang ingin saya kunjungi. Saya tahu hotel mana yang paling dekat dengan stasiun kereta, hotel mana yang tinggal jalan kaki ke pantai. Saya tahu harus mengunjungi apa di kota mana. Saya tahu harus bayar berapa untuk naik apa sampai di mana. Huh, rasanya saya lebih pinter daripada travel agent.
Saya bolak-balik membaca review di tripadvisor. Saya pelajari daftar tempat-tempat yang wajib dikunjungi di dunia, daftar hotel-hotel dengan pelayanan terbaik, bahkan daftar tempat-tempat paling romantis (well, just in case). Saya benar-benar terobsesi dan akhirnya... saya membuat proposal liburan yang saya presentasikan ke si-dia-yang-tidak-boleh-disebut-namanya. Hahaha!
Sejak di bangku SMP, saya bercita-cita akan mengunjungi Jepang suatu kali nanti. Nggak tahu apa alasan saya waktu itu. Tapi kira-kira, zaman saya kecil dan remaja memang overdosis kebudayaan Jepang lewat film (Oshiin, Doraemon, Ksatria Baja Hitam, Tokyo Love Story) komik, (favorit saya: Topeng Kaca dan Kariage Kun), dan buku (saya membaca Musashi dan Taiko). Saya penasaran banget: kayak apa sih pemandian umum di sana? Saya juga pengen melihat indahnya pohon sakura di musim semi.
Dari Sydney, ada pesawat murah ke Tokyo atau Osaka, 'hanya' $ 400 an sekali jalan. Biasanya kalau sale lebih murah dari itu. Rasa-rasanya kok terjangkau. Saya pun sibuk mencari-cari Ryokan mana yang murah dan lokasinya strategis. Tapi memang penginapan di Jepang (apalagi Tokyo) super mahal. Sudah mahal, sempit pula. Lama-lama dihitung pengeluaran untuk makan dan transport (dengan dua precils) kok banyak ya? Oh - oh!
Jepang, mungkin lain kali.
Selanjutnya saya tahu dari Tripadvisor kalau ada satu tempat yang wajib dikunjungi oleh seluruh umat di dunia, sebelum mereka mati. Nama tempat itu adalah Milford Sound, dan itu terletak di ... New Zealand.
Hai, bukannya New Zealand dekat dari sini? Sydney, maksud saya. Belum pernah dengar tentang Milford Sound? Saya juga, sebelum saya baca daftar tempat-tempat yang harus dikunjungi di dunia. Bisa ditebak, saya jadi terobsesi dengan Milford Sound. Saya google, wiki dan you-tube. Beauuuuuuutiful! I fall in love with it instantly.
Saya mulai naksir New Zealand dan rajin mengintip website wisatanya di sini. Saya sudah membuat proposal perjalanan keliling New Zealand selama dua minggu, dari Auckland di pulau utara, kemudian ke Wellington. Kemudian dari Wellington menyeberang ke pulau selatan melewati Picton dan menuju Christchurch. Dari Christchurch menuju Queenstown (bungee capital, not that I dare to bungee). Dari Queenstown bisa day trip ke Milford Sound. Biaya pesawat dari Sydney ke Auckland atau Christchurch sekitar $ 200 dan kalau lagi sale bisa 'cuma' $135.
Best of all, he-who-can-not-be-named-in-this-blog agreed to take me (with the kids) there. I mean he DID AGREE! Oh-la-la. My proposal must be so good and convincing. I love him more for this. We just need to find the right time (and the right amount of saving-haha). Maybe next year, as my travel resolution this year is to fly Mamah, Ayah and Dila here. In the meantime, we will watch (again) The Lord of The Rings trilogy. The NZ custom won't let you in if you haven't watch those movies.
A.K.
Kiama, kota kecil di sebelah selatan Sydney menjadi tujuan jalan-jalan kami mengawali liburan musim panas kali ini.
(baca tiga cerita sebelumnya)
Nggak komplet rasanya liburan musim panas tanpa basah-basahan di pantai. Sejak sampai Kiama, Anindya sudah ngebet pengen berenang di pantai. Sayangnya cuaca waktu itu agak mendung dan udara sejuknya masih terlalu dingin untuk main ke pantai. Tambahan lagi suhu air pantai yang masih sedingin es.
Di motel tempat kami menginap ada kolam renang kecil berair asin. Meski dingin, Anindya ngotot mengajak berenang. Saya tidak kuasa menolak ajakannya, menemani Anindya masuk kolam sambil menggigil. Untung renangnya nggak berlangsung lama. Kami langsung mandi air hangat begitu selesai.
Saya pikir Anindya sudah puas dengan berenang di kolam. Ternyata sorenya dia masih ingin ke pantai. Ini setelah kami bosan bengong duduk memandang pantai dari jendela kamar sambil ngemil rope dan pretzel. Karena Nino masih nyenyak tidur siang, saya bawa anak-anak menyelinap dari motel, melewati pintu belakang dan menyeberang taman. Hanya perlu waktu dua menit untuk sampai di Surf Beach. Kami hanya berbekal handuk pantai saja untuk duduk-duduk.
Surf Beach ini pantai berpasir putih, merupakan ceruk kecil, tapi ombaknya besar. Sesuai namanya, pantai ini sering digunakan untuk berselancar. Saya sendiri heran, lumayan banyak orang yang berselancar di suhu air sedingin ini. Mungkin kalau sudah asyik di air tidak terlalu terasa dinginnya. Seperti Anindya yang asyik bermain dengan ombak. Sementara Ayesha bermain pasir dan mengejar burung-burung camar. Sesekali Ayesha mengikuti kakaknya mengejar ombak.
 Di musim panas, matahari baru terbenam lewat pukul delapan. Sekitar jam tujuh, pantai sudah mulai sepi, para peselancar sudah menggotong papan mereka pulang. Penjaga pantai juga sudah berkemas dan menggulung bendera mereka. Saya sudah sms Nino bahwa kami ada di pantai, tapi tidak ada tanda-tanda dia sudah bangun. Saya telpon dia dan menyuruhnya menengok ke jendela. Anindya heboh melambai-lambaikan tangannya. Kami berbilas di pancuran air bersih yang disediakan di pinggir pantai dan pulang. Anindya yang lumayan basah mandi sekali lagi. Sementara saya (seperti biasa) merasa sudah cukup mandi yang tadi.
Esoknya kami keluar dari motel dan menuju ke Wollongong. Kota ini bisa dicapai sekitar setengah jam saja dari Kiama ke arah utara. Wollongong terkenal sebagai kota industri. Di sini ada universitas yang lumayan terkenal, yaitu University of Wollongong. Saya ingat, pertama kali mendengar nama universitas ini di Jogja ketika saya kuliah dulu. Waktu itu (mungkin sampai sekarang) ada program double degree di Fakultas Ekonomi UII bekerja sama dengan Universitas Wollongong ini. Nggak tahu, mungkin yang dimaksud Wollongong di Australia sini atau mungkin di negara lain?
Kami sempat masuk dan berputar-putar di Universitas Wollongong sebelum akhirnya menuju pantai (lagi). Kami memarkir mobil di dekat South Beach. Pelabuhan Wollongong mempunyai dua mercusuar, satu di selatan dan satu di utara. Memanjang dari mercusuar tersebut adalah pantai selatan dan pantai utara.
Pantai selatan Wollongong berpasir putih, lumayan panjang dan memiliki ombak yang besar. Ditambah lagi angin waktu itu begitu kencang. Kami menggelar sarung pantai di dekat markas para penjaga pantai.
Di Australia, banyak pantai yang dijaga oleh penjaga pantai (life guard). Mereka memasang dua bendera merah-kuning untuk menandai garis pantai yang aman untuk berenang. Biasanya wilayah di antara dua bendera ini ramai dengan keluarga dan anak-anak. Untuk cari aman, kami selalu bermain di dekat life guard ini.
Tanpa dikomando, Anindya langsung berganti baju dan nyebur ke laut. Dalam sekejap, ombak besar menghantamnya dan membuatnya basah kuyup. Ayesha seperti biasa asyik membangun istana pasir dengan cup plastik bekas minuman. Cuaca lumayan panas kali ini. Saya sendiri membangun kursi pasir, menyelimutinya dengan sarung bali dan membaca novel. Sesekali saya melerai anak-anak yang bertengkar. Ayesha biarpun kecil sering sekali mengganggu kakaknya, kali ini berusaha menghancurkan istana pasir buatan Kakaknya.
Dari pantai di Wollongong, hanya perlu satu setengah jam untuk sampai di rumah lagi. Mungkin tahun depan (atau bulan depan?) kami akan mencoba bermobil ke sebelah utara Sydney.
- tamat -
A.K.
Kiama, kota kecil di sebelah selatan Sydney, merupakan pilihan kami berakhir pekan di awal liburan musim panas ini.
(lihat cerita sebelumnya)
Puas melihat-lihat pasar, kami meneruskan jalan-jalan ke Kiama Harbour. Kiama punya pelabuhan kecil untuk berlabuh kapal-kapal penangkap ikan, baik yang komersial maupun sekedar untuk hobi memancing. Masih dengan cuaca mendung dan angin dingin yang sejuk, kami menyusuri jalan di pinggir pelabuhan yang bersih. Mata kami menangkap beberapa burung pelikan berenang dengan anggun, menuju bibir pelabuhan tempat orang-orang bersiap dengan kamera sakunya.
Seperti burung-burung lainnya, burung pelikan di sini tidak takut dengan manusia. Maklumlah, di sini tidak ada orang yang 'nekat' menembak atau menangkap burung. Mungkin orang sini akan ngeri kalau berkunjung ke Jogja atau Solo dan mendapati menu burung dara goreng di warung-warung. Asyik rasanya melihat burung-burung bebas berkeliaran di mana-mana. Di taman-taman kota biasanya ada burung dara, burung bangau, robin dan jalak. Sementara di pinggir pantai ramai dengan burung camar. Burung pelikan di sini dijadikan simbol kota Kiama.
Puas memotret burung pelikan yang cantik, kami melanjutkan perjalanan menuju mercusuar. Jalannya naik menuju bukit. Lumayan capek, tapi setelah sampai di atas, pemandangannya langsung mengalahkan pegal di kaki. Di dekat mercusuar ada padang rumput luas yang ditumbuhi bunga-bunga liar dengan pemandangan ke laut lepas. Kami menghabiskan banyak waktu duduk-duduk di situ, memandang Ayesha berlarian dan mencabuti bunga-bunga kuning kecil dan Anindya berguling-guling menuruni bukit.
Di dekat mercusuar ada satu atraksi wisata yang terkenal di Kiama, yaitu Blowhole. Ombak dari laut yang terperangkap di batu-batu karang membuat semacam 'ledakan air' dengan suara berisik. Blowhole ini cukup menghibur dan merupakan atraksi yang wajib disinggahi oleh pengunjung Kiama.
Menu makan siang kami kali ini adalah Panfried fish with homemade tartare sauce, served with chips and rocket and kumera salad. Terjemahannya: ikan dan kentang goreng plus lalapan. Kami membelinya di kafe dekat Visitor Information Kiosk. Lumayan mahal euy, tapi rasanya uenak banget (menurut saya loh). Nino, yang berlidah Jawa (Timur!) tentu saja memilih menyantap nasi dengan gulai ayam, sumbangan teman dari Sydney yang berpiknik bersama kami. Saya suka banget dengan salad-nya, campuran daun rocket yang pahit, baby spinach, ketela kuning, tomat, bawang merah spanyol, keju dan saus segar.
Melewati jalan setapak dengan pohon-pohon pinus di pinggirnya, kami pulang menuju hotel dan beristirahat. Mengumpulkan energi untuk bermain di pantai.
(bersambung ke cerita tentang pantai...)
A.K.
Mengawali liburan musim panas, kami sekeluarga mengunjungi Kiama, dua jam bermobil dari Sydney ke arah selatan.
(lihat cerita sebelumnya)
Kami menginap dua malam di motel. Motel Kiama Cove, tempat kami menginap, lokasinya lumayan strategis, dekat sekali dengan pusat kota, tinggal jalan ke pusat atraksi wisata di Kiama, dan lebih asyik lagi, pantai terdekat tepat di belakang motel kami.
Sekilas dilihat dari luar, bangunan motel ini mirip kamar-kamar kos di Jogja. Memang bangunannya tidak begitu menarik, kamarnya juga seperti penginapan biasa. Tapi motel ini bersih, bisa muat dua anak dalam sekamar (dengan tambahan portable cot), dan harganya relatif murah. Kami bayar $139 per malam termasuk sarapan pagi yang cukup untuk sekeluarga. Jangan dihitung dalam rupiah, jatuhnya tetap mahal. Harga segini jauh lebih murah daripada motel/hotel/inn yang lain. Dari jendela kamar yang besar (dari atap sampai lantai) kami bisa memandang Surf Beach. Sayangnya di sebelah kiri ada bangunan jelek yang mengganggu pandangan.
 Sarapan pagi sudah disediakan sebelumnya dan disimpan di kulkas mini. Menunya adalah roti (putih dan gandum), sereal, berbagai macam olesan untuk roti (mentega, madu, selai, vegemite), tiga macam jus dan juga susu. Tersedia juga toaster dan perlengkapan untuk membuat kopi/teh. Sarapan yang lumayan untuk cadangan energi mengawali jalan-jalan di pagi hari.
Jalan kaki di Kiama, terasa banget suasana kota kecilnya, orang lalu lalang yang tidak terlalu ramai dan tidak tergesa-gesa, udara yang lebih segar (meskipun Sydney jauh lebih segar daripada Surabaya), dan tiadanya gedung-gedung pencakar langit. Nggak heran Kiama jadi pilihan melarikan diri sejenak dari rutinitas kerja di Sydney. Dari motel, kami berjalan menuju pelabuhan Kiama, melewati bangunan-bangunan tua seperti kantor pos yang dicat warna pink, dan juga gedung tua yang dijadikan kantor bank.
Beruntung kami ke Kiama bertepatan dengan digelarnya Pasar Minggu (Kiama Seaside Market) setiap minggu ketiga tiap bulannya. Di pasar ini dijual bermacam-macam benda kerajinan, mainan, baju, tanaman, buah segar, makanan dan minuman. Saya senang melihat-lihat keramaian di pinggir pantai pasir hitam (Black Beach). Di sini juga digelar beberapa permainan anak-anak, termasuk atraksi memberi makan hewan ternak.
Untuk Ayesha, kami membelikan kincir angin dari kertas. Mainan ini kenangan masa kecil saya, dibeli tiap pasar malam sekaten. Kami juga membeli banyak boneka bekas seharga 50 sen satunya. Selesai melihat-lihat pasar, giliran Anindya yang ingin naik komidi putar. Anindya juga mencoba memberi makan biri-biri. Pertamanya dia takut banget dan sempat dikejar oleh kambing jantan. Saya sih nggak begitu tertarik dengan hewan ternak. Maklum orang desa, sudah biasa lihat kambing, ayam dan bebek.
(bersambung ...) A.K.
Kiama adalah kota kecil sebelah selatan Sydney, bisa dicapai dengan dua jam naik mobil.
Minggu lalu, mengawali liburan musim panas, kami sekeluarga jalan-jalan ke Kiama dan sekitarnya, bermobil dan menginap dua malam. Untuk menyenangkan anak-anak, kami singgah dulu ke Jamberoo Action Park, semacam waterbom di Bali atau Jakarta.
Jamberoo bisa dicapai sekitar satu setengah jam naik mobil, melewati princess highway ke selatan Sydney. Pemandangan sepanjang perjalanan cukup lumayan, kami melewati hutan-hutan kecil dengan daun hijau, kuning dan coklat. Sampai di Albion Park kami masuk ke wilayah Jamberoo yang merupakan desa di perbukitan. Rumah-rumah penduduk dikelilingi oleh peternakan mereka. Tampak sapi-sapi gemuk merumput di padang, juga gulungan-gulungan jerami kering. Jarak antar satu rumah dengan rumah yang lain lumayan jauh, sekitar 500 meter atau lebih. Sekitar 15 menit melintasi desa Jamberoo, sampailah kami ke Jamberoo Action Park yang konon merupakan waterpark terbesar di NSW.
Jamberoo Park ini hanya buka di musim panas, sekitar Oktober sampai Maret. Ya iyalah, siapa juga yang mau berbasah-basahan di musim dingin. Di musim liburan, pengunjungnya bisa banyak banget, biasanya keluarga dengan anak-anak, lengkap dengan perbekalan piknik, esky (kotak plastik besar untuk menyimpan makanan dan minuman dingin) dan bahkan tenda.
Seperti konsep waterpark pada umumnya, Jamberoo Park ini berisi wahana permainan air seperti berbagai macam seluncur air, kolam ombak, kolam anak-anak, sungai leha-leha (lazy river). Ada juga berbagai permainan kering seperti go kart, chairlift (seperti lift untuk main ski, tanpa saljunya), toboggan (perosotan dari bukit setelah naik chairlift), kereta mini dan golf mini . Dengan Ayesha (18 bulan), saya cukup puas menemani dia di kolam anak-anak. Ayesha main perosotan tiada henti. Didi dan ayahnya yang mencoba beberapa seluncur air dan go kart. Yang paling mendebarkan ketika saya nekat menggendong Ayesha untuk naik chairlift (setelah saya lihat ada orang yang melakukan hal yang sama untuk bayinya). Memang tidak ada batasan tinggi badan untuk naik chairlift. Hanya saja kami khawatir karena tidak ada pengaman seperti seatbelt. Tapi rugi kan kalau nggak nyobain, apalagi kami sudah bayar tiket terusan. Masak hanya main-main di kolam bayi aja. Sampai di atas bukit, kami harus turun, mau nggak mau dengan toboggan. Coba bayangkan mainan anak-anak kampung yang main seluncuran dengan pelepah kelapa, ya seperti itulah toboggan. Hanya saja ada rem tangan dan ada jalur khususnya menuruni bukit. Saya tandem dengan Ayesha. Saking asyiknya, saya jarang menggunakan rem nya, hehehe. Kayaknya Ayesha juga senang main toboggan.

Setelah capek main air, kami leyeh-leyeh di kafe dengan kopi gratis dan bekal makanan dari rumah. Kami keluar dari Jamberoo Park setelah taman ini benar-benar tutup, lewat jam lima sore. Bener-bener dipuasin karena bayarnya lumayan mahal, $37 untuk dewasa dan $29 untuk anak-anak.
Dari Jamberoo Park, kami kembali melintasi desa Jamberoo menuju motel kami di Kiama, sekitar 25 menit ke arah tenggara.
(... bersambung ke bagian 2)
A.K.
 | Resep | Oct 13, '09 9:21 PM for everyone |
I am a complete idiot on cooking. Ibu saya piawai memasak masakan super lezat. Sayangnya bakat itu tidak 'menurun' ke saya.
Kok bisa ibunya pinter masak tapi anaknya gak bisa masak sama sekali? Entahlah. Seingat saya waktu kecil dulu saya juga sering disuruh membantu ibu di dapur. Tapi ibu tidak pernah sabar dengan hasil kerja saya yang lambat dan tidak sempurna. Asal tahu saja, ibu saya sangat cepat dan trengginas dalam bekerja, dengan hasil sempurna. Seringnya, bantuan saya malah menghambat kerja ibu, jadi saya sering diusir dari dapur. Alhasil, saya tidak mewarisi ketrampilan memasak ibu.
Tapi saya tidak bisa menyalahkan ibu yang terlalu pintar memasak. Nyatanya adik saya juga berbakat memasak. Dia lebih sukses menjadi apprentice ibu. Sepertinya, masalahnya memang ada pada diri saya sendiri.
Tinggal di negeri orang memaksa saya memasak sendiri. Sehari-hari kami makan makanan Indonesia. Suami saya termasuk orang yang belum kenyang kalau belum makan nasi. Dulu saya selalu mengandalkan bumbu instant seperti bamboe, munik, indofood dan kokita yang tersedia di warung-warung Indonesia di sini. Praktis, tinggal siapkan bahan, gunting bumbunya, dan campur-campur. Rasanya? Enak sih, tapi ada yang kurang.
Suatu saat seorang teman mengingatkan bahwa nggak bagus kalau selalu pakai bumbu jadi. Tidak segar dan ada pengawetnya. Iya sih...
Lebaran kemarin saya memasak opor, masih dengan bumbu jadi. Saya tidak terlalu bangga dengan masakan instan itu. Dari teman-teman, saya dapat kiriman sambal goreng, lontong sayur dan opor juga. Sedih rasanya nggak bisa membalas mengirim masakan juga. Nggak lucu kan kirim makanan dari bumbu jadi.
Tiap lebaran memang rasanya saya jadi mellow. Pengen makan masakan ibu. Apalagi adik saya manas-manasin ibu sedang masak srundeng yang saya ingat rasanya spektakuler. Baiklah, saya memang harus berpaling lagi ke ibu. Meminta warisan resep-resepnya. Saya menelpon ibu, siap dengan catatan. Sayang sekali, ibu bukan termasuk orang yang pinter menceritakan kembali cara memasak. Saya minta resep, saya tanya berapa bawangnya, berapa cabenya? Ibu menjawab: yaa secukupnya. Hohoho, kalau saya tahu secukupnya itu berapa, barangkali saya tidak perlu lagi resep. Saya perlu resep karena saya selain tidak tahu bumbu apa saja yang dipakai, juga tidak tahu seberapa banyak bumbu-bumbu itu.
Memang akhirnya saya berhasil mendapatkan resep srundeng dan mangut dari ibu, setelah wawancara mendetail. Kadang ibu lupa menyebutkan bumbu tertentu, tiba-tiba di tengah jalan dia sebutkan sekarang masukkan bumbu ini. Lha tadi kok belum disebutkan?
Itu juga yang terjadi ketika saya meminta resep sambal bawang (sambal favorit suami) dari Yu Yem, asisten di rumah Malang. Duh, repotnya. Yu Yem juga tidak bisa mendeskripsikan berapa banyak bawangnya, cabenya, garamnya. Secukupnya lah. Terus tinggal digoreng dan diuleg.
Saya tidak bisa menyalahkan mereka yang keahliannya memasaknya memang sudah dari sananya, yang bisa kira-kira dan ngerti masakan ini kurang apa. Beda dengan saya yang belajar dari resep dan buku. Mungkin sama juga dengan orang-orang yang heran bagaimana saya bisa menulis novel. Kalau saya harus jelaskan satu-satu cara menulis novel, saya juga tidak tahu bagaimana menjelaskannya.
Internet sebenarnya sumber yang melimpah untuk mendapatkan resep-resep Indonesia. Tapi sayangnya resep-resep itu kurang detil, untuk complete idiot seperti saya. Saya benci dengan kata-kata 'secukupnya', atau 'sesuai selera'. Kadang untuk resep membuat kue tidak disebutkan berapa derajat oven nya dan berapa lama memanggangnya. Cuma ditulis panggang sampai matang. Orang seperti saya, mana bisa tahu kapan matangnya?
Sampai akhirnya saya menemukan resepnugraha.net yang menurut saya sangat membantu untuk pemasak pemula seperti saya. Mbak Astri, pemilik website ini selalu menyebutkan dengan jelas takaran bumbu dan bahan dan juga cara memotong (apakah dipotong serong atau dipotong 1 cm, dicincang halus atau dicincang kasar). Resep-resepnya komplit dan praktis, cocok untuk orang yang tinggal di luar negeri dan kangen masakan Indonesia.
Minggu ini, setelah Ayesha nggak begitu lengket sama saya, mulailah saya dibantu suami belajar memasak dengan serius. Kami mulai dengan memasak ikan baramundi. Selama ini kami tidak pernah memasak ikan karena tidak tahu jenis-jenis ikan dan bagaimana memasaknya. Ternyata masakan baramundi kami sukses. Diikuti masakan-masakan selanjutnya: tempe penyet, ikan bumbu kuning, balado terong teri, cap cay kuah, lengkap dengan aneka sambal.
Puas rasanya bisa masak dengan bumbu-bumbu segar. Sekarang ini saya sedang menanti gudeg yang saya masak pakai slow cooker. Kalau yang satu ini berhasil, berarti saya bisa 'naik kelas' nih.
A.K.
Tinggal di Sydney membuat saya kekurangan suplai bacaan bergizi, terutama novel-novel Indonesia terbaru.
Memang sih, di sini saya bisa membaca novel-novel berbahasa Inggris terbaru. Tinggal pinjam di perpus, gratis. Saya mudah mendapatkan novel Stephenie Meyer setelah Twilight, buku fairytale terbaru JK Rowling, novel Gossip Girl dan lanjutannya: IT Girl. Saya juga punya koleksi diary Adrian Mole, Jodi Picoult dan Judy Blume. Saking banyaknya buku dan sedikitnya waktu, buku-buku dari perpus hanya numpang lewat saja di rak buku saya, mabuk pinjam dan dikembalikan lagi setelah tiga minggu. Bahkan saking kemaruknya saya pernah bawa pulang My Sister Keeper dari perpus, padahal saya sudah punya bukunya di rumah (hasil berburu dari Book Sale).
Asyiknya, saya bisa 'belajar' bercerita dari novel-novel itu. Saya suka sekali gaya cerita Cecily von Ziegesar, penulis serial Gossip Girl (diterjemahkan nggak ya di Indo?). Ceritanya nakal sekali, tapi penulisnya pintar bertutur, membuat pembaca ketagihan. Kejadian yang hanya satu minggu dia ceritakan dalam satu buku. Saya bisa membaca novelnya sekali teguk.
Tapi latihan membaca saya sering tidak seimbang dengan 'kerja menulis' saya. Ketika mulai menulis dalam bahasa Indonesia, otak saya bingung karena terkadang saya berpikir dalam bahasa Inggris (hasil dari terlalu banyak membaca novel bahasa Inggris). Saya terbata-bata menulis karena kehilangan banyak kosakata bahasa Indonesia. Jalan satu-satunya adalah mulai kembali membaca novel-novel berbahasa Indonesia.
Saya mengimpor novel-novel teenlit terbaru, termasuk penulis favorit saya: Ken Terate dan Dyan Nur Anindya. Adik saya mengirim paket lewat pos Indonesia yang ternyata sampai dalam seminggu. Ongkos kirimnya sih lumayan mahal, tapi terbayarlah dengan kerinduan saya membaca novel Indo. Moga-moga dengan begini saya tidak kekurangan gizi lagi dan otak saya kembali seimbang.
A.K.
Seperti itulah kira-kira kalau teman Aussie anda mengajak barbekyuan nanti sore. Seperti orang Indonesia, Aussie juga suka membuat singkatan: barbekyu menjadi barbie, afternoon menjadi arvo.
Akhiran -ie atau -y sering sekali digunakan untuk menyingkat. Mereka sendiri menyebut dirinya Aussie. Setiap pagi mereka makan brekky sambil ngobrolin tentang footy (australian rules football). Terus anak-anak kecil pergi ke kindie sementara anak yang sudah besar (atau malah Bapaknya) berangkat ke uni.
Supermarket besar di sini nama resminya Woolworth, tapi orang-orang menyebutnya Woolie. Di sini anda bisa beli vegies, tapi tidak bisa membeli cossy (swimming costume).
Ada lelucon di sini yang mengatakan agama mereka adalah mengambil sickie pada hari Senin. Sickie adalah waktu cuti/bolos kerja karena sakit atau pura-pura sakit. Sickie di hari Senin memang banyak pengikutnya, untuk memperpanjang akhir pekan. Bahkan setelah libur panjang Chrissie pun mereka banyak yang ngambil sickie.
Selain -ie, mereka juga suka menyebut dua suku kata pertama saja untuk kata yang panjang, misalnya avocados menjadi avos, utility vehicle menjadi ute. Ketika anda melihat keindahan pantai atau pelabuhan di sini, cukup ucapkan oh, beaut!
A.K.
Orang Aussie fanatik sekali dengan hewan-hewan khasnya. Mereka punya Koala, Kanguru, Wombat, dan Buaya. Sementara kita juga punya hewan-hewan khas yang unik: Orang Utan, Anoa, Badak Bercula Satu, Cendrawasih dan Komodo. Sayangnya, apresiasi kita terhadap mereka hanya sebatas nama-nama yang harus kita hafal dari buku pelajaran sekolah.Anindya pertama kali melihat Komodo di Taronga Zoo, Sydney. Dia takjub melihat 'extra big lizard'. Lebih takjub lagi ketika dia tahu Komodo berasal dari Indonesia. "Wow, they're from Indonesia," teriaknya dengan nada bangga ketika membaca keterangan di depan kandang komodo. Lebih lanjut saya jelaskan kalau di Indonesia ada pulau bernama pulau Komodo, tempat tinggal para komodo. Anindya lebih ber-wow lagi.Anindya juga beberapa kali melihat film dokumenter tentang orang utan. Orang sini (dan juga Anindya) melafalkannya 'Oreng Uten'. Saya jelaskan kalau nama orang utan itu berasal dari kata Orang yang tinggal di Hutan. Mereka tinggal di hutan Kalimantan. Tapi Orang Utan semakin sedikit jumlahnya karena hutan tempat tinggal mereka ditebangi. Anindya, dan pembuat film dokumenter itu berpendapat bahwa Orang Utan is cute. Mungkin alasan itu juga yang membuat Malaysia menjual paket wisata bertemu Orang Utan. Sering saya temukan iklan wisata "See Orang Utan at Borneo" di koran dan majalah sini. Mereka punya resort di sabah dan sarawak yang atraksi utamanya adalah bertemu dengan Orang Utan. (Oh, ternyata Malaysia tidak hanya tertarik pada pulau-pulau kita...). Di sini, cerita Koala dan Kanguru banyak dijumpai di buku anak-anak. Di Indonesia, adakah buku cerita anak-anak tentang Komodo, atau Orang Utan? (semoga saja ada, hanya saya yang belum tahu). Dulu pernah ada cerita boneka si Komo yang dipopulerkan oleh Kak Seto. Cerita yang begitu disukai oleh anak-anak Indonesia, tapi sayangnya tidak ada usaha untuk melanjutkan tayangan tersebut. Bahkan setahu saya kurang sekali usaha untuk membuat tayangan anak-anak yang bermutu.Kalau menunggu pemerintah beraksi, kayaknya malah membuat kita frustasi. Yang bisa kita lakukan sekarang, minimal mengenalkan ragam flora dan fauna khas ke anak-anak kita, dan menanamkan kebanggaan ke mereka sebagai orang Indonesia. nanti, lebih banyak lagi,A.K.ps: saya sudah vote pulau komodo sebagai tujuh keajaiban alam yang baru, di sini
Di sekolah Anindya, upacara bendera digelar setiap hari Senin dan Jumat. Acaranya singkat dan efisien, tidak sampai 10 menit.
Begitu bel berbunyi, anak-anak berlarian menuju halaman sekolah. Mereka membentuk barisan sesuai kelasnya. Tidak perlu lencang kanan-kiri, tapi lumayan rapi. Tiga menit kemudian bel kedua berbunyi. Para guru sudah siap di tempatnya, guru kelas di belakang barisan kelas masing-masing dan guru bidang studi berdiri di depan. Setelah bel kedua, kepala sekolah menghitung 1,2,3 dan anak-anak yang tadinya berdengung seperti kawanan tawon mendadak diam. Begitu juga dengan kumpulan orang tua di belakang mereka. Upacara siap dimulai.
Satu wakil siswa menjadi pembawa acara. Satu siswa lain memegang tongkat berbendera. Lagu Advance Australia Fair dikumandangkan dari kaset. Anak-anak ikut bernyanyi dengan keras sementara para orang tua bergumam-gumam. Setelah lagu selesai, kepala sekolah memberikan pengumuman tentang kegiatan yang akan diadakan dalam minggu ini. Termasuk juga berita untuk wali murid tentang isu terbaru, misalnya dalam minggu ini, cara-cara pencegahan swine flu. Selesai pengumuman dari kepala sekolah, biasanya ada pengumuman dari guru lain atau ada penghormatan kepada anak-anak yang berhasil menang lomba. Setelah itu anak-anak menuju kelas masing-masing, bergantian dengan tertib.
Saya jadi ingat upacara bendera di sekolah setiap hari Senin dan hari besar nasional yang lain. Yang saya ingat adalah lamanya dan panasnya. Saking capeknya berdiri, sampai lupa sebenarnya inti acaranya itu apa? Menanamkan kedisiplinan? Penghormatan kepada bendera dan pahlawan bangsa? Menumbuhkan rasa cinta kepada tanah air? Saya rasa untuk tujuan-tujuan tersebut tidak perlu dilakukan dengan cara-cara militer.
Saya cinta Indonesia. Dada saya berdebar ketika lagu Indonesia Raya dikumandangkan di Olimpiade. Saya ikut menangis ketika Susi Susanti mendapatkan emas pertama untuk Indonesia. Kaki saya gemetar ketika Indonesia gagal di adu penalti memperebutkan emas SEA Games, duluuuu sekali.
Menumbuhkan rasa cinta pada tanah air bisa dilakukan dengan mengenalkan prestasi Indonesia di tingkat dunia dan juga warisan budaya dan alam kita, yang sebenarnya dikagumi oleh masyarakat internasional. Sebut saja kita punya Komodo, Orang Utan, Borobudur, Batik, Cendrawasih, dan lain-lain. Sayangnya, rasa nasionalisme kita sering dinodai oleh ulah pemimpin dan wakil rakyat kita sendiri. Seperti ketika bangsa kita diserang oleh teroris, Presiden kita malah sibuk pidato tentang dirinya sendiri. Oh, please!
nanti, lebih banyak lagi, A.K.
Sekolah di sini enak, banyak liburnya. Enak untuk anak-anak (dan mungkin, guru), nggak begitu enak untuk orang tuanya.
Kalender pendidikan dibagi menjadi empat term, sesuai musim. Masing-masing term hanya berlangsung sekitar 2,5 bulan. Tiap akhir term ada libur sekitar 15 hari. Libur musim panas lebih panjang lagi, sekitar 40 hari. Dimulai dari dua atau tiga hari menjelang natal sampai dengan awal Februari.
Hari ini adalah hari terakhir liburan musim dingin. Besok Anindya sudah masuk sekolah lagi. Huah, betapa leganya saya. Minimal mulai besok saya tidak mendengar lagi kalimat, "I'm bored" yang diucapkan Anindya seperti dia menghela nafas. Susah sekali untuk entertain anak usia 7 tersebut. Memang ada beberapa hari yang dia saya antar ke rumah teman sebaya atau ada teman yang main ke rumah. Tetapi sesaat setelah mereka berpisah, belum juga si teman hilang dari pandangan, kalimat paten Anindya sudah terucap lagi. Saya menahan diri untuk tidak mengucap, "Me too. I'm really bored to hear you say 'I'm bored' all the time."
Kalau sedang tidak ada teman sebaya, saya berusaha jadi teman bermain Anindya. Kalau cuaca bagus, kami main sepeda di halaman belakang rumah, atau saya bawa anak-anak ke taman. Kalau cuaca buruk, mendung, hujan atau angin, saya dan Anindya main Nintendo Wii. Anindya lumayan terhibur setiap kami main MarioKart karena saya hampir pasti kalah. Bukannya mengalah, saya memang tidak begitu mahir permainan yang melibatkan keseimbangan.
Saya paling tidak suka musim dingin. Alasannya simpel: terlalu dingin. Meskipun di sini tidak sampai minus, tapi tetap saja di luar dan di dalam rumah terasa dingin. Mestinya memang liburan musim dingin dihabiskan di daerah bersalju sekalian, main ski dan bikin boneka salju. Beberapa teman kami berombongan berwisata ke snowy mountain, sekitar tiga jam naik mobil dari Sydney. Tapi kami memutuskan tidak ikut. Alasannya itu tadi: saya tidak suka yang dingin-dingin.
Atau harusnya pas musim dingin kami berwisata ke negara tropis ya, seperti misalnya, Indonesia. Ehm, I wish I could. Biayanya tidak sedikit, bagi kaum sederhana seperti saya, hahaha.
A.K.
Saya bukan tipe orang yang mau keluar banyak uang untuk membeli ponsel mahal dan canggih. Tapi kalau diberi gratis, lain lagi ceritanya.
Penyedia layanan jaringan di Australia biasanya menerapkan sistem paket pascabayar kepada pelanggan. Dengan kontrak 24 bulan, pelanggan bisa mendapatkan ponsel secara gratis. Penggunaan atau tagihan minimal bervariasi, mulai dari $19 per bulan.
Sejak pertama datang kesini akhir bulan Februari yang lalu, Nino langsung kontrak dengan Three dan mendapat ponsel gratis LG viewty. Kemudian setelah saya datang, Nino berusaha mendapatkan ponsel untuk saya juga. Sayangnya, untuk penduduk musiman dengan visa pelajar, hanya diperbolehkan satu kontrak. Sementara saya juga tidak bisa mendaftar sendiri karena tidak berpenghasilan (huhuhu, padahal saya berpenghasilan loh, hanya saja dalam rupiah). Untungnya setelah lewat tiga bulan dan Nino berhasil membuktikan kalau dia orang baik-baik, pihak Three mengabulkan permohonan kontrak kedua. Artinya, ponsel baru untuk saya, huray!
Perhitungan tarif pulsa di sini sama rumitnya dengan di Indonesia. Dari operator yang satu dengan yang lain tidak bisa dibandingkan, karena mereka menggunakan sistem yang berbeda. Saya, pelanggan Three, bayar minimal $19 per bulan selama 24 bulan dan mendapatkan ponsel baru Nokia E63, gratis. Dengan paket bayar segitu, saya mendapatkan pulsa sebesar $70 untuk telpon sesama Three dan pulsa $70 untuk sms dan telpon ke selain Three. Tarif sms lokal/nasional = 25 sen dan internasional = 45 sen. Tarif telpon 45 sen per 30 detik ditambah ongkos sambung 35 sen sekali telpon. Tarif tersebut hanya berlaku untuk paket $19/bulan. Kalau ambil paket yang lain lagi, tarif sms, telpon dan lain-lain bisa beda. Belum kalau beda operator. Pusing hitungnya.
Tapi kalau dihitung-hitung, pengguna pasca bayar lebih untung daripada prabayar. Dengan prabayar, sebulan minimal mengeluarkan uang $15, tapi ponsel nya harus beli sendiri. Sementara, harga ponsel di sini juga tidak lebih murah daripada di Indonesia. Dengan menambah hanya $4 saja tiap bulannya, sudah bisa mendapatkan ponsel yang lumayan canggih.
Yang jelas, saya harus irit-irit agar penggunaan pulsa tetap di minimal, nggak jebol. Yang penting lagi, saya punya ponsel baru yang kinclong, dengan papan ketik qwerty, radio, kamera, dan gratisan facebook sampai akhir Agustus.
A.K.
Pada hari ulang tahun Ayesha yang pertama, Nino menyelamati saya karena telah sukses memberi ASI untuk Ayesha selama setahun penuh.Saya memberinya ASI eksklusif selama enam bulan pertama dan tetap memberi ASI tanpa campuran susu formula sampai sekarang. Tantangan membesarkan anak di sini terasa lebih berat karena tidak ada dukungan dari keluarga dan tidak ada pembantu, namun sisi baiknya adalah dukungan pemberian ASI jauh lebih baik daripada di Indonesia.Di sini, sejak lahir, Ayesha sudah langsung diberikan ke saya untuk disusui. Satu jam pertama, dalam balutan selimut, Ayesha sudah berusaha mencari sendiri puting susu ibunya. Selanjutnya, bayi tetap dirawat dalam satu ruang dengan ibunya. Perawat hanya sesekali datang kalau dibutuhkan, termasuk memberi tahu cara menyusui yang benar. Beda sekali dengan pengalaman saya melahirkan Anindya di Yogyakarta. Setelah melahirkan, setiap sore bayi Anindya dibawa oleh perawat dan baru dikembalikan esok paginya, begitu selama tiga hari saya di rumah sakit. Anindya juga diberi susu formula dari botol oleh pihak rumah sakit, tanpa sepengetahuan saya. Baru kemudian saya tahu kalau pemberian susu formula akan memperlambat bayi belajar menyusu ASI.Di sini, jarang sekali saya temui iklan-iklan susu formula di media, apalagi di rumah sakit. Yang saya tahu, hanya ada satu merek yang ada di apotek-apotek. Beda dengan di Indonesia, merek susu formula berlomba-lomba menjadi sponsor di rumah sakit. Mungkin pihak pemberi layanan kesehatan mendapat manfaat jika merekomendasikan merek tertentu.Saya merasa gagal memberi yang terbaik untuk Anindya, saya hanya menyusui sampai dia berusia enam bulan, itu saja tidak eksklusif. Masalahnya, ketika Anindya berusia tiga bulan, saya sakit Demam Berdarah dan perlu dirawat inap di rumah sakit selama seminggu. Setelah itu produksi ASI saya berkurang dan saya tidak berdaya untuk tidak memberinya susu formula. Karena pengalaman saya tersebut, saya bertekad menyusui Ayesha terus. Hasilnya ASI dan susu formula memang jauh berbeda. Ayesha jarang sekali sakit, hanya satu kali demam ketika dia berusia delapan bulan. Setiap ada gejala sakit, saya hanya memberinya ASI lebih banyak, dan penyakitnya tidak jadi kambuh.Keseriusan dan tekad saya memberi ASI pada Ayesha membuat saya patah hati ketika dua minggu yang lalu Ayesha menolak minum ASI. Hari itu kami jalan-jalan ke Watson Bay naik ferry, dan juga mendaki bukit menuju mercusuar. Dalam perjalanan, saya mencoba menyusui Ayesha, tapi dia menolak. Padahal biasanya dia minum ASI setiap tiga jam. Di tempat bermain, di dalam kapal dan di kereta, saya coba dan coba lagi, tapi Ayesha tetap menolak. Saya sempat frustasi ketika kami sampai di rumah malam harinya, Ayesha tetap menolak ASI. Parahnya lagi, dia juga menolak minum segala jenis cairan. Saya takut sekali dia dehidrasi dan menjadi sakit karena kurang nutrisi.Saya cek di website babycenter yang selama ini menjadi tempat saya bertanya masalah anak. Ternyata ada beberapa bayi yang suatu saat menolak ASI begitu saja. Alasan pertama, bisa jadi karena dia sakit, nggak enak badan, hidung buntu atau lidah pahit yang membuat dia nggak enak minum ASI. Kemungkinan kedua adalah karena bayi trauma menyakiti ibunya ketika dia minum ASI. Saya baru ingat bahwa hari-hari terakhir ini saya sering menjerit terkejut karena Ayesha menggigit kuat puting susu saya. Ya, bisa jadi gabungan dua kemungkinan itu.Terbangun tengah malam, Ayesha saya beri ASI hasil perahan dengan menggunakan sendok. Lumayan dia mau minum sedikit-sedikit, daripada tidak sama sekali. Untungya esok harinya, jam 10 pagi Ayesha sudah mau minum ASI lagi, dengan saya yang berjanji tidak menjerit kalau Ayesha menggigit-gigit.Ternyata saya lebih sengsara kalau Ayesha tidak mau minum ASI daripada ketika dia membangunkan saya berkali-kali di malam hari untuk minta minum.A.K.
"Of Course You Can," begitu semboyan dari Sydney Community College, lembaga kursus untuk masyarakat umum di Sydney. Lembaga ini melayani orang-orang dewasa yang ingin punya ketrampilan baru.Apa yang ada di benak Anda begitu mendengar kata kursus? Kalau saya, langsung ingat tetangga saya di Salam (this is somewhere between Jogja and Magelang, sorry, you couldn't find it in the map) yang membuka kursus menjahit, salon dan rias penganten. Di kota besar, kursus tentu lebih beragam lagi, dari kursus bahasa asing, komputer, main piano sampai menyetir mobil. Yang terakhir ini saya pernah ikut, dan jadi malu kalau ingat ^_^Di katalog Sydney Community College, saya menemukan kursus yang lebih beragam (dan aneh-aneh) lagi, mencakup berbagai macam minat dari olahraga, seni, bahasa, gaya hidup, sampai bisnis. Saya tertarik dengan beberapa macam kursus yang ada di situ, mengingat biayanya jauh lebih murah daripada biaya sekolah beneran di Uni, lagipula jangka waktunya pendek dan kelihatannya asyik. Pilihannya adalah belajar memasak International Food, meracik kopi (barista), creative writing, web publishing, bisnis ekspor-impor, atau belajar how to start your own T-shirt label. Saya juga bilang ke Nino saya pengen nyoba kursus dansa. Dia bilang, "I don't wanna pay hundreds of dollars to embarase myself." Hahaha. Saya memang bukan orang yang punya keseimbangan yang bagus, beda dengan Adik Saya yang pernah menjadi atlet sepatu roda (in-line-skate) nasional. Saya tidak bisa bersepatu roda, menari atau bahkan mengikuti gerakan kelas aerobik. Tapi, bukankah itu alasan yang bagus untuk belajar sesuatu? Karena tidak bisa?Lalu dia menyarankan saya untuk ikut kursus lari. Ya, kursus berlari. Ini adalah grup yang dilatih untuk kuat berlari selama kurang lebih dua jam nonstop. Mereka bertemu seminggu sekali selama 16 minggu dan berlatih di pantai. Di pertemuan pertama, mereka hanya akan diajak berjalan, kemudian secara bertahap diajari berlari. Syaratnya, calon peserta harus sanggup berjalan dengan kecepatan sedang (yang berarti kecepatan tinggi bagi orang kita) selama satu jam. Duh! I wonder if it's his way to ask me to go back in shape... A.K.
Syukurlah acara pergi ke dokter di sini enggak pakai was-was akan diperlakukan buruk, atau malah berakhir di penjara.Saya miris sekali membaca berita tentang Ibu Prita yang dipenjara gara-gara mengeluhkan buruknya layanan kesehatan yang diterimanya melalui surat elektronik pribadi. Saya tidak tahu apakah memang semua kejadian yang ditulis Ibu Prita benar, tapi tidak akan ada asap kalau tidak ada api. Sangat mungkin keluhan dia benar mengingat kebiasaan kebanyakan orang Indonesia yang tidak protes kalau belum keterlaluan banget. Beda dengan orang sini yang sangat 'demanding'. Dokter-dokter yang ditulis Ibu Prita mungkin merasa sudah memperlakukan dia dengan baik. Mungkin sudah sesuai standar prosedur seperti biasanya. Tapi seperti apa sih standar pelayanan dokter di Indonesia? Apa mereka sudah mendengarkan pasien dengan baik? Apa mereka menjawab dan menjelaskan pertanyaan pasien? Apa mereka bersedia menjelaskan kegunaan obat yang diberikan? Apa mereka bersedia memberikan resep obat generik? Saya beruntung menemukan beberapa dokter berhati mulia seperti ini, satu di Jogja dan satu di Surabaya. Selebihnya adalah cerita tentang dokter yang sambil lalu memeriksa pasien dan segera memberi resep macam-macam dengan harga yang mahal.Di sini, pelayanan dokter lumayan bagus. Mereka tidak seramah orang Indonesia pada umumnya yang suka berbasa-basi, tapi mereka profesional. Mereka mendengarkan keluhan, menjawab dan menjelaskan. Mereka tidak memberi tindakan berlebihan untuk penyakit-penyakit kecil. Jarang ada dokter yang memberi antibiotik kalau pasien 'cuma' sakit flu. Kami punya waktu minimal 15 menit di ruang prakter dokter, bisa lebih apabila diperlukan. Mengapa? Karena dokter tidak menerima uang langsung dari pasien. Pemerintah menjamin seluruh layanan kesehatan penduduk dengan asuransi wajib (Medicare) yang dibayar lewat pajak. Layanan kesehatan dan obat tidak diperjual belikan seperti barang dagangan di pasar bebas. Kami yang bukan penduduk sini memang wajib membayar biaya asuransi kesehatan, biayanya sekitar $380 per orang atau $760 untuk keluarga per tahun. Lumayan mahal kalau di kurs kan ke rupiah, tapi dengan harga segitu, seluruh perawatan kesehatan (kecuali mata dan gigi) ditanggung, rawat jalan maupun rawat inap, bahkan termasuk biaya persalinan. Di Indonesia, biaya layanan kesehatan mahal, dan tidak ada jaminan pelayanan yang baik. Adakah calon presiden kita yang memikirkan desain layanan kesehatan dan regulasi perdagangan obat yang memihak rakyat?Ah, sudahlah, segini dulu. Ini Ayesha masih rewel habis disuntik imunisasi. Semoga Anda yang membaca tulisan ini selalu sehat dan tidak pernah berurusan dengan dokter atau rumah sakit yang buruk.A.K.Oh, ya, tentu saja saya turut mendukung Ibu Prita di facebook.
Hari ini ada open house di sekolah Anindya (7 tahun), berikut pameran karya seni dan parents brunch.Acara open house semacam ini memberi kesempatan pada orang tua murid untuk melihat kegiatan belajar mengajar di kelas. Tentu saja kesempatan seperti ini tidak kami lewatkan. Sebelum mengintip ruang kelas, kami melihat-lihat pameran karya seni murid-murid Hampden Park Public School (HPPS). Setiap siswa menampilkan satu karya mereka, entah itu lukisan, kolase, sketsa, gambar atau karya seni rupa yang lain. Tiap kelas mempunyai tema tersendiri. Tema kelas Anindya adalah membuat lukisan vas bunga.Hasil kreativitas anak-anak usia SD ini sungguh mengagumkan. Mereka tidak takut untuk mengeluarkan ide mereka dalam bentuk karya. Beberapa kelas mengambil tema Picasso. Dari tema Picasso saya menjumpai karya sketsa dan kolase yang unik. Mungkin tema Picasso ini cocok untuk anak-anak karena mereka tidak terintimidasi untuk membuat lukisan atau karya yang "indah" dan "sempurna". Saya jadi ingat zaman SD dulu. Saat pelajaran seni, kami semua menggambar dua gunung berapi dengan matahari di tengah dan persawahan di bawahnya. Saya takut untuk menggambar yang lain karena gambar gunung kembar itulah yang dicontohkan oleh guru. Saya juga takut kalau gambar saya nanti jelek dan tidak seperti aslinya. Tapi mungkin anak SD zaman sekarang di Indonesia sudah lebih ekspresif dan berani. Gambar-gambar Anindya ketika sekolah di Sekolah Alam Insan Mulia Surabaya dulu juga tidak melulu pemandangan dengan latar belakang gunung.Para pengunjung pameran diperbolehkan membeli karya seni anak-anak seharga $ 1. Tentu saja kami membeli karya anak kami sendiri, hehehe. Menurut saya pameran seperti ini adalah ide yang bagus. Disamping meningkatkan rasa percaya diri untuk anak-anak dalam berkarya, juga meningkatkan apresiasi orang tua terhadap kerja keras anak.Ketika menengok kelas Anindya, mereka sedang membahas buku The Twit karya Roald Dahl. Anak-anak disuruh bekerja berpasangan dan menulis kalimat apa kira-kira yang akan diucapkan Mr Twit kepada lawan bicaranya. Tiap dua anak menggunakan satu laptop, jadi belajar bahasa Inggris sekaligus belajar menggunakan komputer. Menurut saya, fasilitas ini lumayan mewah, atau glamour, istilah Adik Saya. Kerja berpasangan seperti ini sangat membantu Anindya yang tadinya belum berani bicara di dalam kelas menjadi sedikit lebih berani. Maklum, Anindya takut berbicara di depan banyak orang. Jadi kalau cuma harus bekerja dengan satu orang lain, Anindya lebih nyaman.Selesai mengintip kelas, kami berkumpul di selasar untuk acara Parents Brunch. Untuk acara ini setiap orang membawa satu piring makanan. Saya membawa martabak dengan kulit roti chappati (kapan-kapan resepnya saya bagi). Di meja saji terhidang banyak jenis makanan tradisional, kebanyakan dari Bangladesh dan Lebanon. Begitu acara dibuka oleh Kepala Sekolah, kami langsung menyerbu meja saji. Saya mengambil satu satu setiap makanan yang terhidang, yang bentuknya lumayan menarik. Di piring saya ada Lebanese Pizza dengan sujuk, dua kue mirip lumpia tapi bentuknya segitiga, kue mirip martabak, kue bolu biasa untuk Ayesha, kue seperti apem, sejumput nasi biryani dan kue berbentuk bola putih yang ternyata manis banget. Saya beranikan diri untuk mencicipi makanan-makanan aneh yang saya tidak tahu namanya itu. Ada yang lumayan, ada yang rasanya tawar, ada juga yang "cuih" terlalu banyak bumbu. Memang ciri khas masakan Asia Kecil adalah bumbu-bumbu yang tajam. Yang paling enak menurut saya sih tetap martabak. Tapi belum sempat saya ambil, martabak saya sudah lenyap, laris manis.A.K.Foto-foto bisa diklik di sini.
Saya sudah pesan jauh-jauh hari ke Nino untuk menjaga anak-anak agar saya bisa ikut satu kelas Sydney Writer's Festival.
Sebenarnya banyak sekali kelas yang bisa diikuti, mengingat festival ini menghadirkan ratusan penulis lokal dan internasional. Cakupan tema yang digulirkan juga luas, dari kepenulisan buku anak-anak dan remaja sampai kepenulisan tentang penduduk pribumi. Dari buku tentang musik, makanan, skenario, puisi, perjalanan sampai buku sejarah dan politik.
Acara ini diadakan di Sydney Dance Company, semacam sekolah tari di Walsh Bay, sebelah jembatan Sydney yang terkenal itu. Tempatnya asyik, cocok untuk duduk-duduk minum kopi dan makan kue-kue sambil ngobrolin buku-buku terbaru.
Di hari terakhir festival, saya berkesempatan mengikuti diskusi panel dengan tema: Don’t Tell the Teenagers: Young Adult Fiction That’s "Too Hard" for Young Adults. Pembicaranya adalah tiga orang penulis novel remaja kenamaan: Mal Peet (UK), MT Anderson (US) and Margo Lanagan (Aussie). Biar nyambung dan nggak bengong di kelas, saya sudah mencari (dan membaca) buku mereka yang saya pinjam dari perpustakaan.
Diskusi berlangsung satu jam. Inti diskusi mereka adalah bagaimana memposisikan bacaan remaja. Apakah penulis novel remaja harus mengikuti selera dan tren saja atau mereka bisa menulis untuk menggelitik pikiran dan imajinasi remaja. Anderson, yang novel remajanya Octavian Nothing, dikritik sebagai novel yang terlalu berat untuk remaja, membela diri dengan mengatakan janganlah kita terlalu meremehkan kemampuan membaca mereka. Banyak remaja yang meneruskan membaca 'buku-buku berat' meskipun mereka belum mengerti sebagian isinya karena ingin tahu dunia dewasa yang akan mereka masuki.Menarik juga mengikuti diskusi semacam ini, meskipun saya masih tertatih-tatih mencoba mengerti maksud dibalik kosakata canggih bahasa Inggris mereka. Anindya langsung bosan begitu masuk ruangan. Dia berusaha keras menyibukkan diri dengan mainan pixel chix-nya selama satu jam. Untung Ayesha tidur di stroller sehingga Nino bisa masuk, menjadi juru foto dan penerjemah pribadi.Dua tahun yang lalu ada penulis dari Indonesia yang diundang: Ayu Utami dan seorang penyair dari Bali, saya lupa namanya. Saya sudah datang ke acara tersebut, ternyata kelas Ayu Utami dibatalkan, nggak tahu alasannya apa. Sayangnya, untuk tahun lalu dan tahun ini, tidak ada penulis dari Indonesia yang diundang.
Sebenarnya setelah kelas yang saya ikuti, masih ada kelas yang menarik: The Secret of Writing Fantasy for Young Adult. Saya pengen ikut, tapi anak-anak sudah capek. Akhirnya kami lihat-lihat sebentar toko buku sponsor festival ini kemudian pulang.
Acara ini ada setiap tahun. Jadi kalau ada teman-teman yang mau ikut, mampirlah ke Sydney sekitar bulan Mei. Nanti saya antar ke writer's festival dan saya traktir kopi.
A.K. foto-foto yang lain silakan diklik di sini.
Orang sini biasanya meletakkan begitu saja barang-barang yang sudah tak terpakai lagi di depan rumah mereka. Kalau ada barang-barang yang ditaruh di luar pagar, berarti sudah milik umum, siapa saja boleh mengambil.
Ketika kami pertama kali datang ke Sydney, kami sering sengaja jalan-jalan untuk 'memulung' barang-barang bekas. Banyak yang kondisinya masih bagus. Alhasil, apartemen kami waktu itu penuh dengan barang-barang temuan seperti rak DVD, meja lukis, boneka, bahkan kasur.
Sekarang sih kami tidak begitu bernafsu untuk menjadi 'pemulung'. Maklum, sudah lebih tahu di mana bisa cari barang-barang bagus dengan harga murah. Tapi minggu kemarin saya melihat stroller bagus tergeletak begitu saja di pinggir jalan. Saya tidak tahan untuk tidak memungutnya (setelah tengok kanan kiri dan memastikan bahwa keadaan aman, hehehe). Masih bagus sekali, nyaris seperti baru. Stroller seperti ini kalau baru harganya sekitar $200 an. Saya sampai bingung menerka mengapa barang sebagus ini dibuang. Memang waktu itu ketiga rodanya kempes. Kami perlu memompakan di tukang sepeda.
Ya sudah, memang rezeki Ayesha tampaknya.
A.K. keterangan foto: yang saya temukan di jalan stroller-nya, anaknya saya bikin sendiri (eh, maksud saya berdua, hehehe)
Dengan adanya teknologi e-paper, kami sekarang bisa baca Kompas cetak pagi-pagi, lebih dulu dari pelanggan di Indonesia. Asyiknya lagi, layanan ini gratis.Syaratnya tentu saja sambungan internet dengan kecepatan tinggi. Sambungan internet pita lebar kami saat ini mencapai 2.375 kpbs (barusan saya cek, mohon maaf kalau ada yang iri ^_^). Dengan kecepatan seperti itu dibutuhkan sekitar 30 detik untuk membuka setiap halaman koran. Sebelum ada e-paper, kami sudah lumayan puas mengintip berita tentang Indonesia di kanal-kanal berita online. Tapi, rasanya kok lebih mantap kalau membaca koran tradisional, halaman per halaman. Saya juga kangen membaca koran minggu dengan cerpen dan benny&mice-nya. Nino juga terpuaskan membaca opini dan mengkritik segala macam huru-hara politik. Sudah saya bilang agar dia memulai menulis blog, daripada hanya saya yang menjadi pendengar setia komentar-komentar cerdasnya, tapi ya, memang calon phD yang satu ini sibuk sekali .Saya tidak perlu kecewa salah menerima suplemen seperti Adik saya yang tinggal di perbatasan Jogja - Jateng, karena saya bisa membaca suplemen dari SEMUA daerah. Saya bisa mengintip apa kabar Sultan setelah nggak jadi nyalon presiden. Juga kabar Pakdhe Karwo sedang sibuk menggusur (maaf, menata) kampung Surabaya bagian mana. Saya kadang juga iseng mengamati iklan-iklan tanah atau rumah dijual di Jogja (hehehe, siapa tahu dapat rejeki nomplok...). Nikmat sekali rasanya bisa baca koran pagi, ditemani teh panas dan ubi goreng.A.K.
| |