Diary

Blog EntryResepOct 13, '09 9:21 PM
for everyone
I am a complete idiot on cooking. Ibu saya piawai memasak masakan super lezat. Sayangnya bakat itu tidak 'menurun' ke saya.

Kok bisa ibunya pinter masak tapi anaknya gak bisa masak sama sekali? Entahlah. Seingat saya waktu kecil dulu saya juga sering disuruh membantu ibu di dapur. Tapi ibu tidak pernah sabar dengan hasil kerja saya yang lambat dan tidak sempurna. Asal tahu saja, ibu saya sangat cepat dan trengginas dalam bekerja, dengan hasil sempurna. Seringnya, bantuan saya malah menghambat kerja ibu, jadi saya sering diusir dari dapur.  Alhasil, saya tidak mewarisi ketrampilan memasak ibu.

Tapi saya tidak bisa menyalahkan ibu yang terlalu pintar memasak. Nyatanya adik saya juga berbakat memasak. Dia lebih sukses menjadi apprentice ibu. Sepertinya, masalahnya memang ada pada diri saya sendiri.

Tinggal di negeri orang memaksa saya memasak sendiri. Sehari-hari kami makan makanan Indonesia. Suami saya termasuk orang yang belum kenyang kalau belum makan nasi. Dulu saya selalu mengandalkan bumbu instant seperti bamboe, munik, indofood dan kokita yang tersedia di warung-warung Indonesia di sini. Praktis, tinggal siapkan bahan, gunting bumbunya, dan campur-campur. Rasanya? Enak sih, tapi ada yang kurang.

Suatu saat seorang teman mengingatkan bahwa nggak bagus kalau selalu pakai bumbu jadi. Tidak segar dan ada pengawetnya. Iya sih...  

Lebaran kemarin saya memasak opor, masih dengan bumbu jadi. Saya tidak terlalu bangga dengan masakan instan itu. Dari teman-teman, saya dapat kiriman sambal goreng, lontong sayur dan opor juga. Sedih rasanya nggak bisa membalas mengirim masakan juga. Nggak lucu kan kirim makanan dari bumbu jadi.

Tiap lebaran memang rasanya saya jadi mellow. Pengen makan masakan ibu. Apalagi adik saya manas-manasin ibu sedang masak srundeng yang saya ingat rasanya spektakuler. Baiklah, saya memang harus berpaling lagi ke ibu. Meminta warisan resep-resepnya. Saya menelpon ibu, siap dengan catatan. Sayang sekali, ibu bukan termasuk orang yang pinter menceritakan kembali cara memasak. Saya minta resep, saya tanya berapa bawangnya, berapa cabenya? Ibu menjawab: yaa secukupnya. Hohoho, kalau saya tahu secukupnya itu berapa, barangkali saya tidak perlu lagi resep. Saya perlu resep karena saya selain tidak tahu bumbu apa saja yang dipakai, juga tidak tahu seberapa banyak bumbu-bumbu itu. 

Memang akhirnya saya berhasil mendapatkan resep srundeng dan mangut dari ibu, setelah wawancara mendetail. Kadang ibu lupa menyebutkan bumbu tertentu, tiba-tiba di tengah jalan dia sebutkan sekarang masukkan bumbu ini. Lha tadi kok belum disebutkan? 

Itu juga yang terjadi ketika saya meminta resep sambal bawang (sambal favorit suami) dari Yu Yem, asisten di rumah Malang. Duh, repotnya. Yu Yem juga tidak bisa mendeskripsikan berapa banyak bawangnya, cabenya, garamnya. Secukupnya lah. Terus tinggal digoreng dan diuleg. 

Saya tidak bisa menyalahkan mereka yang keahliannya memasaknya memang sudah dari sananya, yang bisa kira-kira dan ngerti masakan ini kurang apa. Beda dengan saya yang belajar dari resep dan buku. Mungkin sama juga dengan orang-orang yang heran bagaimana saya bisa menulis novel. Kalau saya harus jelaskan satu-satu cara menulis novel, saya juga tidak tahu bagaimana menjelaskannya. 

Internet sebenarnya sumber yang melimpah untuk mendapatkan resep-resep Indonesia. Tapi sayangnya resep-resep itu kurang detil, untuk complete idiot seperti saya. Saya benci dengan kata-kata 'secukupnya', atau 'sesuai selera'. Kadang untuk resep membuat kue tidak disebutkan berapa derajat oven nya dan berapa lama memanggangnya. Cuma ditulis panggang sampai matang. Orang seperti saya, mana bisa tahu kapan matangnya?

Sampai akhirnya saya menemukan resepnugraha.net yang menurut saya sangat membantu untuk pemasak pemula seperti saya. Mbak Astri, pemilik website ini selalu menyebutkan dengan jelas takaran bumbu dan bahan dan juga cara memotong (apakah dipotong serong atau dipotong 1 cm, dicincang halus atau dicincang kasar). Resep-resepnya komplit dan praktis, cocok untuk orang yang tinggal di luar negeri dan kangen masakan Indonesia.

Minggu ini, setelah Ayesha nggak begitu lengket sama saya, mulailah saya dibantu suami belajar memasak dengan serius. Kami mulai dengan memasak ikan baramundi. Selama ini kami tidak pernah memasak ikan karena tidak tahu jenis-jenis ikan dan bagaimana memasaknya. Ternyata masakan baramundi kami sukses. Diikuti masakan-masakan selanjutnya: tempe penyet, ikan bumbu kuning, balado terong teri, cap cay kuah, lengkap dengan aneka sambal. 

Puas rasanya bisa masak dengan bumbu-bumbu segar. Sekarang ini saya sedang menanti gudeg yang saya masak pakai slow cooker. Kalau yang satu ini berhasil, berarti saya bisa 'naik kelas' nih.

A.K.

Blog EntryPenulis Kurang GiziAug 14, '09 3:01 AM
for everyone
Tinggal di Sydney membuat saya kekurangan suplai bacaan bergizi, terutama novel-novel Indonesia terbaru.

Memang sih, di sini saya bisa membaca novel-novel berbahasa Inggris terbaru. Tinggal pinjam di perpus, gratis. Saya mudah mendapatkan novel Stephenie Meyer setelah Twilight, buku fairytale terbaru JK Rowling, novel Gossip Girl dan lanjutannya: IT Girl. Saya juga punya koleksi diary  Adrian Mole, Jodi Picoult dan Judy Blume. Saking banyaknya buku dan sedikitnya waktu, buku-buku dari perpus hanya numpang lewat saja di rak buku saya, mabuk pinjam dan dikembalikan lagi setelah tiga minggu. Bahkan saking kemaruknya saya pernah bawa pulang My Sister Keeper dari perpus, padahal saya sudah punya bukunya di rumah (hasil berburu dari Book Sale).

Asyiknya, saya bisa 'belajar' bercerita dari novel-novel itu. Saya suka sekali gaya cerita Cecily von Ziegesar, penulis serial Gossip Girl (diterjemahkan nggak ya di Indo?). Ceritanya nakal sekali, tapi penulisnya pintar bertutur, membuat pembaca ketagihan. Kejadian yang hanya satu minggu dia ceritakan dalam satu buku. Saya bisa membaca novelnya sekali teguk.

Tapi latihan membaca saya sering tidak seimbang dengan 'kerja menulis' saya. Ketika mulai menulis dalam bahasa Indonesia, otak saya bingung karena terkadang saya berpikir dalam bahasa Inggris (hasil dari terlalu banyak membaca novel bahasa Inggris). Saya terbata-bata menulis karena kehilangan banyak kosakata bahasa Indonesia. Jalan satu-satunya adalah mulai kembali membaca novel-novel berbahasa Indonesia.

Saya mengimpor novel-novel teenlit terbaru, termasuk penulis favorit saya: Ken Terate dan Dyan Nur Anindya. Adik saya mengirim paket lewat pos Indonesia yang ternyata sampai dalam seminggu. Ongkos kirimnya sih lumayan mahal, tapi terbayarlah dengan kerinduan saya membaca novel Indo. Moga-moga dengan begini saya tidak kekurangan gizi lagi dan otak saya kembali seimbang.

A.K.

Blog EntryBarbie this arvo?Aug 5, '09 7:11 AM
for everyone
Seperti itulah kira-kira kalau teman Aussie anda mengajak barbekyuan nanti sore. Seperti orang Indonesia, Aussie juga suka membuat singkatan: barbekyu menjadi barbie, afternoon menjadi arvo.

Akhiran -ie atau -y sering sekali digunakan untuk menyingkat. Mereka sendiri menyebut dirinya Aussie. Setiap pagi mereka makan brekky sambil ngobrolin tentang footy (australian rules football). Terus anak-anak kecil pergi ke kindie sementara anak yang sudah besar (atau malah Bapaknya) berangkat ke uni.

Supermarket besar di sini nama resminya Woolworth, tapi orang-orang menyebutnya Woolie. Di sini anda bisa beli vegies, tapi tidak bisa membeli cossy (swimming costume).

Ada lelucon di sini yang mengatakan agama mereka adalah mengambil sickie pada hari Senin. Sickie adalah waktu cuti/bolos kerja karena sakit atau pura-pura sakit. Sickie di hari Senin memang banyak pengikutnya, untuk memperpanjang akhir pekan. Bahkan setelah libur panjang Chrissie pun mereka banyak yang ngambil sickie.

Selain -ie, mereka juga suka menyebut dua suku kata pertama saja untuk kata yang panjang, misalnya avocados menjadi avos, utility vehicle menjadi ute. Ketika anda melihat keindahan pantai atau pelabuhan di sini, cukup ucapkan oh, beaut!

A.K.


Blog EntryKoala vs KomodoJul 28, '09 10:34 PM
for everyone
Orang Aussie fanatik sekali dengan hewan-hewan khasnya. Mereka punya Koala, Kanguru, Wombat, dan Buaya. Sementara kita juga punya hewan-hewan khas yang unik: Orang Utan, Anoa, Badak Bercula Satu, Cendrawasih dan Komodo. Sayangnya, apresiasi kita terhadap mereka hanya sebatas nama-nama yang harus kita hafal dari buku pelajaran sekolah.

Anindya pertama kali melihat Komodo di Taronga Zoo, Sydney. Dia takjub melihat 'extra big lizard'. Lebih takjub lagi ketika dia tahu Komodo berasal dari Indonesia. "Wow, they're from Indonesia," teriaknya dengan nada bangga ketika membaca keterangan di depan kandang komodo. Lebih lanjut saya jelaskan kalau di Indonesia ada pulau bernama pulau Komodo, tempat tinggal para komodo. Anindya lebih ber-wow lagi.

Anindya juga beberapa kali melihat film dokumenter tentang orang utan. Orang sini (dan juga Anindya) melafalkannya 'Oreng Uten'. Saya jelaskan kalau nama orang utan itu berasal dari kata Orang yang tinggal di Hutan. Mereka tinggal di hutan Kalimantan. Tapi Orang Utan semakin sedikit jumlahnya karena hutan tempat tinggal mereka ditebangi. Anindya, dan pembuat film dokumenter itu berpendapat bahwa Orang Utan is cute. Mungkin alasan itu juga yang membuat Malaysia menjual paket wisata bertemu Orang Utan. Sering saya temukan iklan wisata "See Orang Utan at Borneo" di koran dan majalah sini. Mereka punya resort di sabah dan sarawak yang atraksi utamanya adalah bertemu dengan Orang Utan. (Oh, ternyata Malaysia tidak hanya tertarik pada pulau-pulau kita...).

Di sini, cerita Koala dan Kanguru banyak dijumpai di buku anak-anak. Di Indonesia, adakah buku cerita anak-anak tentang Komodo, atau Orang Utan? (semoga saja ada, hanya saya yang belum tahu). Dulu pernah ada cerita boneka si Komo yang dipopulerkan oleh Kak Seto. Cerita yang begitu disukai oleh anak-anak Indonesia, tapi sayangnya tidak ada usaha untuk melanjutkan tayangan tersebut. Bahkan setahu saya kurang sekali usaha untuk membuat tayangan anak-anak yang bermutu.

Kalau menunggu pemerintah beraksi, kayaknya malah membuat kita frustasi. Yang bisa kita lakukan sekarang, minimal mengenalkan ragam flora dan fauna khas ke anak-anak kita, dan menanamkan kebanggaan ke mereka sebagai orang Indonesia.

nanti,
lebih banyak lagi,
A.K.

ps: saya sudah vote pulau komodo sebagai tujuh keajaiban alam yang baru, di sini


Blog EntryUpacara BenderaJul 27, '09 8:31 PM
for everyone
Di sekolah Anindya, upacara bendera digelar setiap hari Senin dan Jumat. Acaranya singkat dan efisien, tidak sampai 10 menit.

Begitu bel berbunyi, anak-anak berlarian menuju halaman sekolah. Mereka membentuk barisan sesuai kelasnya. Tidak perlu lencang kanan-kiri, tapi lumayan rapi. Tiga menit kemudian bel kedua berbunyi. Para guru sudah siap di tempatnya, guru kelas di belakang barisan kelas masing-masing dan guru bidang studi berdiri di depan. Setelah bel kedua, kepala sekolah menghitung 1,2,3 dan anak-anak yang tadinya berdengung seperti kawanan tawon mendadak diam. Begitu juga dengan kumpulan orang tua di belakang mereka. Upacara siap dimulai.

Satu wakil siswa menjadi pembawa acara. Satu siswa lain memegang tongkat berbendera. Lagu Advance Australia Fair dikumandangkan dari kaset. Anak-anak ikut bernyanyi dengan keras sementara para orang tua bergumam-gumam. Setelah lagu selesai, kepala sekolah memberikan pengumuman tentang kegiatan yang akan diadakan dalam minggu ini. Termasuk juga berita untuk wali murid tentang isu terbaru, misalnya dalam minggu ini, cara-cara pencegahan swine flu. Selesai pengumuman dari kepala sekolah, biasanya ada pengumuman dari guru lain atau ada penghormatan kepada anak-anak yang berhasil menang lomba. Setelah itu anak-anak menuju kelas masing-masing, bergantian dengan tertib.

Saya jadi ingat upacara bendera di sekolah setiap hari Senin dan hari besar nasional yang lain. Yang saya ingat adalah lamanya dan panasnya. Saking capeknya berdiri, sampai lupa sebenarnya inti acaranya itu apa? Menanamkan kedisiplinan? Penghormatan kepada bendera dan pahlawan bangsa? Menumbuhkan rasa cinta kepada tanah air? Saya rasa untuk tujuan-tujuan tersebut tidak perlu dilakukan dengan cara-cara militer.

Saya cinta Indonesia. Dada saya berdebar ketika lagu Indonesia Raya dikumandangkan di Olimpiade. Saya ikut menangis ketika Susi Susanti mendapatkan emas pertama untuk Indonesia. Kaki saya gemetar ketika Indonesia gagal di adu penalti memperebutkan emas SEA Games, duluuuu sekali.

Menumbuhkan rasa cinta pada tanah air bisa dilakukan dengan mengenalkan prestasi Indonesia di tingkat dunia dan juga warisan budaya dan alam kita, yang sebenarnya dikagumi oleh masyarakat internasional. Sebut saja kita punya Komodo, Orang Utan, Borobudur, Batik, Cendrawasih, dan lain-lain. Sayangnya, rasa nasionalisme kita sering dinodai oleh ulah pemimpin dan wakil rakyat kita sendiri. Seperti ketika bangsa kita diserang oleh teroris, Presiden kita malah sibuk pidato tentang dirinya sendiri. Oh, please!

nanti, lebih banyak lagi,
A.K.


Blog EntryLiburan SekolahJul 27, '09 2:15 AM
for everyone
Sekolah di sini enak, banyak liburnya. Enak untuk anak-anak (dan mungkin, guru), nggak begitu enak untuk orang tuanya.

Kalender pendidikan dibagi menjadi empat term, sesuai musim. Masing-masing term hanya berlangsung sekitar 2,5 bulan. Tiap akhir term ada libur sekitar 15 hari. Libur musim panas lebih panjang lagi, sekitar 40 hari. Dimulai dari dua atau tiga hari menjelang natal sampai dengan awal Februari.

Hari ini adalah hari terakhir liburan musim dingin. Besok Anindya sudah masuk sekolah lagi. Huah, betapa leganya saya. Minimal mulai besok saya tidak mendengar lagi kalimat, "I'm bored" yang diucapkan Anindya seperti dia menghela nafas. Susah sekali untuk entertain anak usia 7 tersebut. Memang ada beberapa hari yang dia saya antar ke rumah teman sebaya atau ada teman yang main ke rumah. Tetapi sesaat setelah mereka berpisah, belum juga si teman hilang dari pandangan, kalimat paten Anindya sudah terucap lagi. Saya menahan diri untuk tidak mengucap, "Me too. I'm really bored to hear you say 'I'm bored' all the time."

Kalau sedang tidak ada teman sebaya, saya berusaha jadi teman bermain Anindya. Kalau cuaca bagus, kami main sepeda di halaman belakang rumah, atau saya bawa anak-anak ke taman. Kalau cuaca buruk, mendung, hujan atau angin, saya dan Anindya main Nintendo Wii. Anindya lumayan terhibur setiap kami main MarioKart karena saya hampir pasti kalah. Bukannya mengalah, saya memang tidak begitu mahir permainan yang melibatkan keseimbangan.

Saya paling tidak suka musim dingin. Alasannya simpel: terlalu dingin. Meskipun di sini tidak sampai minus, tapi tetap saja di luar dan di dalam rumah terasa dingin. Mestinya memang liburan musim dingin dihabiskan di daerah bersalju sekalian, main ski dan bikin boneka salju. Beberapa teman kami berombongan berwisata ke snowy mountain, sekitar tiga jam naik mobil dari Sydney. Tapi kami memutuskan tidak ikut. Alasannya itu tadi: saya tidak suka yang dingin-dingin.

Atau harusnya pas musim dingin kami berwisata ke negara tropis ya, seperti misalnya, Indonesia. Ehm, I wish I could. Biayanya tidak sedikit, bagi kaum sederhana seperti saya, hahaha.

A.K.

Blog EntryPonsel Gratis, Mau?Jun 26, '09 2:14 AM
for everyone
Saya bukan tipe orang yang mau keluar banyak uang untuk membeli ponsel mahal dan canggih. Tapi kalau diberi gratis, lain lagi ceritanya.

Penyedia layanan jaringan di Australia biasanya menerapkan sistem paket pascabayar kepada pelanggan. Dengan kontrak 24 bulan, pelanggan bisa mendapatkan ponsel secara gratis. Penggunaan atau tagihan minimal bervariasi, mulai dari $19 per bulan.

Sejak pertama datang kesini akhir bulan Februari yang lalu, Nino langsung kontrak dengan Three dan mendapat ponsel gratis LG viewty. Kemudian setelah saya datang, Nino berusaha mendapatkan ponsel untuk saya juga. Sayangnya, untuk penduduk musiman dengan visa pelajar, hanya diperbolehkan satu kontrak. Sementara saya juga tidak bisa mendaftar sendiri karena tidak berpenghasilan (huhuhu, padahal saya berpenghasilan loh, hanya saja dalam rupiah). Untungnya setelah lewat tiga bulan dan Nino berhasil membuktikan kalau dia orang baik-baik, pihak Three mengabulkan permohonan kontrak kedua. Artinya, ponsel baru untuk saya, huray!

Perhitungan tarif pulsa di sini sama rumitnya dengan di Indonesia. Dari operator yang satu dengan yang lain tidak bisa dibandingkan, karena mereka menggunakan sistem yang berbeda. Saya, pelanggan Three, bayar minimal $19 per bulan selama 24 bulan dan mendapatkan ponsel baru Nokia E63, gratis. Dengan paket bayar segitu, saya mendapatkan pulsa sebesar $70 untuk telpon sesama Three dan pulsa $70 untuk sms dan telpon ke selain Three. Tarif sms lokal/nasional = 25 sen dan internasional = 45 sen. Tarif telpon 45 sen per 30 detik ditambah ongkos sambung 35 sen sekali telpon. Tarif tersebut hanya berlaku untuk paket $19/bulan. Kalau ambil paket yang lain lagi, tarif sms, telpon dan lain-lain bisa beda. Belum kalau beda operator. Pusing hitungnya.

Tapi kalau dihitung-hitung, pengguna pasca bayar lebih untung daripada prabayar. Dengan prabayar, sebulan minimal mengeluarkan uang $15, tapi ponsel nya harus beli sendiri. Sementara, harga ponsel di sini juga tidak lebih murah daripada di Indonesia. Dengan menambah hanya $4 saja tiap bulannya, sudah bisa mendapatkan ponsel yang lumayan canggih.

Yang jelas, saya harus irit-irit agar penggunaan pulsa tetap di minimal, nggak jebol. Yang penting lagi, saya punya ponsel baru yang kinclong, dengan papan ketik qwerty, radio, kamera, dan gratisan facebook sampai akhir Agustus.

A.K.


Blog EntryAda Apa Dengan Ayesha?Jun 10, '09 3:49 AM
for everyone
Pada hari ulang tahun Ayesha yang pertama, Nino menyelamati saya karena telah sukses memberi ASI untuk Ayesha selama setahun penuh.

Saya memberinya ASI eksklusif selama enam bulan pertama dan tetap memberi ASI tanpa campuran susu formula sampai sekarang. Tantangan membesarkan anak di sini terasa lebih berat karena tidak ada dukungan dari keluarga dan tidak ada pembantu, namun sisi baiknya adalah dukungan pemberian ASI jauh lebih baik daripada di Indonesia.

Di sini, sejak lahir, Ayesha sudah langsung diberikan ke saya untuk disusui. Satu jam pertama, dalam balutan selimut, Ayesha sudah berusaha mencari sendiri puting susu ibunya. Selanjutnya, bayi tetap dirawat dalam satu ruang dengan ibunya. Perawat hanya sesekali datang kalau dibutuhkan, termasuk memberi tahu cara menyusui yang benar.

Beda sekali dengan pengalaman saya melahirkan Anindya di Yogyakarta. Setelah melahirkan, setiap sore bayi Anindya dibawa oleh perawat dan baru dikembalikan esok paginya, begitu selama tiga hari saya di rumah sakit. Anindya juga diberi susu formula dari botol oleh pihak rumah sakit, tanpa sepengetahuan saya. Baru kemudian saya tahu kalau pemberian susu formula akan memperlambat bayi belajar menyusu ASI.

Di sini, jarang sekali saya temui iklan-iklan susu formula di media, apalagi di rumah sakit. Yang saya tahu, hanya ada satu merek yang ada di apotek-apotek. Beda dengan di Indonesia, merek susu formula berlomba-lomba menjadi sponsor di rumah sakit. Mungkin pihak pemberi layanan kesehatan mendapat manfaat jika merekomendasikan merek tertentu.

Saya merasa gagal memberi yang terbaik untuk Anindya, saya hanya menyusui sampai dia berusia enam bulan, itu saja tidak eksklusif. Masalahnya, ketika Anindya berusia tiga bulan, saya sakit Demam Berdarah dan perlu dirawat inap di rumah sakit selama seminggu. Setelah itu produksi ASI saya berkurang dan saya tidak berdaya untuk tidak memberinya susu formula.

Karena pengalaman saya tersebut, saya bertekad menyusui Ayesha terus. Hasilnya ASI dan susu formula memang jauh berbeda. Ayesha jarang sekali sakit, hanya satu kali demam ketika dia berusia delapan bulan. Setiap ada gejala sakit, saya hanya memberinya ASI lebih banyak, dan penyakitnya tidak jadi kambuh.

Keseriusan dan tekad saya memberi ASI pada Ayesha membuat saya patah hati ketika dua minggu yang lalu Ayesha menolak minum ASI. Hari itu kami jalan-jalan ke Watson Bay naik ferry, dan juga mendaki bukit menuju mercusuar. Dalam perjalanan, saya mencoba menyusui Ayesha, tapi dia menolak. Padahal biasanya dia minum ASI setiap tiga jam. Di tempat bermain, di dalam kapal dan di kereta, saya coba dan coba lagi, tapi Ayesha tetap menolak. Saya sempat frustasi ketika kami sampai di rumah malam harinya, Ayesha tetap menolak ASI. Parahnya lagi, dia juga menolak minum segala jenis cairan. Saya takut sekali dia dehidrasi dan menjadi sakit karena kurang nutrisi.

Saya cek di website babycenter yang selama ini menjadi tempat saya bertanya masalah anak. Ternyata ada beberapa bayi yang suatu saat menolak ASI begitu saja. Alasan pertama, bisa jadi karena dia sakit, nggak enak badan, hidung buntu atau lidah pahit yang membuat dia nggak enak minum ASI. Kemungkinan kedua adalah karena bayi trauma menyakiti ibunya ketika dia minum ASI. Saya baru ingat bahwa hari-hari terakhir ini saya sering menjerit terkejut karena Ayesha menggigit kuat puting susu saya. Ya, bisa jadi gabungan dua kemungkinan itu.

Terbangun tengah malam, Ayesha saya beri ASI hasil perahan dengan menggunakan sendok. Lumayan dia mau minum sedikit-sedikit, daripada tidak sama sekali. Untungya esok harinya, jam 10 pagi Ayesha sudah mau minum ASI lagi, dengan saya yang berjanji tidak menjerit kalau Ayesha menggigit-gigit.

Ternyata saya lebih sengsara kalau Ayesha tidak mau minum ASI daripada ketika dia membangunkan saya berkali-kali di malam hari untuk minta minum.

A.K.

Blog EntryOf Course You CanJun 5, '09 8:24 AM
for everyone
"Of Course You Can," begitu semboyan dari Sydney Community College, lembaga kursus untuk masyarakat umum di Sydney. Lembaga ini melayani orang-orang dewasa yang ingin punya ketrampilan baru.

Apa yang ada di benak Anda begitu mendengar kata kursus? Kalau saya, langsung ingat tetangga saya di Salam (this is somewhere between Jogja and Magelang, sorry, you couldn't find it in the map) yang membuka kursus menjahit, salon dan rias penganten. Di kota besar, kursus tentu lebih beragam lagi, dari kursus bahasa asing, komputer, main piano sampai menyetir mobil. Yang terakhir ini saya pernah ikut, dan jadi malu kalau ingat ^_^

Di katalog Sydney Community College, saya menemukan kursus yang lebih beragam (dan aneh-aneh) lagi, mencakup berbagai macam minat dari olahraga, seni, bahasa, gaya hidup, sampai bisnis. Saya tertarik dengan beberapa macam kursus yang ada di situ, mengingat biayanya jauh lebih murah daripada biaya sekolah beneran di Uni, lagipula jangka waktunya pendek dan kelihatannya asyik. Pilihannya adalah belajar memasak International Food, meracik kopi (barista), creative writing, web publishing, bisnis ekspor-impor, atau belajar how to start your own T-shirt label

Saya juga bilang ke Nino saya pengen nyoba kursus dansa. Dia bilang, "I don't wanna pay hundreds of dollars to embarase myself." Hahaha. Saya memang bukan orang yang punya keseimbangan yang bagus, beda dengan Adik Saya yang pernah menjadi atlet sepatu roda (in-line-skate) nasional. Saya tidak bisa bersepatu roda, menari atau bahkan mengikuti gerakan kelas aerobik. Tapi, bukankah itu alasan yang bagus untuk belajar sesuatu? Karena tidak bisa?

Lalu dia menyarankan saya untuk ikut kursus lari. Ya, kursus berlari. Ini adalah grup yang dilatih untuk kuat berlari selama kurang lebih dua jam nonstop. Mereka bertemu seminggu sekali selama 16 minggu dan berlatih di pantai. Di pertemuan pertama, mereka hanya akan diajak berjalan, kemudian secara bertahap diajari berlari. Syaratnya, calon peserta harus sanggup berjalan dengan kecepatan sedang (yang berarti kecepatan tinggi bagi orang kita) selama satu jam. Duh!

I wonder if it's his way to ask me to go back in shape...

A.K.

Blog EntryKe DokterJun 4, '09 2:57 AM
for everyone
Syukurlah acara pergi ke dokter di sini enggak pakai was-was akan diperlakukan buruk, atau malah berakhir di penjara.

Saya miris sekali membaca berita tentang Ibu Prita yang dipenjara gara-gara mengeluhkan buruknya layanan kesehatan yang diterimanya melalui surat elektronik pribadi. Saya tidak tahu apakah memang semua kejadian yang ditulis Ibu Prita benar, tapi tidak akan ada asap kalau tidak ada api. Sangat mungkin keluhan dia benar mengingat kebiasaan kebanyakan orang Indonesia yang tidak protes kalau belum keterlaluan banget. Beda dengan orang sini yang sangat 'demanding'.

Dokter-dokter yang ditulis Ibu Prita mungkin merasa sudah memperlakukan dia dengan baik. Mungkin sudah sesuai standar prosedur seperti biasanya. Tapi seperti apa sih standar pelayanan dokter di Indonesia? Apa mereka sudah mendengarkan pasien dengan baik? Apa mereka menjawab dan menjelaskan pertanyaan pasien? Apa mereka bersedia menjelaskan kegunaan obat yang diberikan? Apa mereka bersedia memberikan resep obat generik? Saya beruntung menemukan beberapa dokter berhati mulia seperti ini, satu di Jogja dan satu di Surabaya. Selebihnya adalah cerita tentang dokter yang sambil lalu memeriksa pasien dan segera memberi resep macam-macam dengan harga yang mahal.

Di sini, pelayanan dokter lumayan bagus. Mereka tidak seramah orang Indonesia pada umumnya yang suka berbasa-basi, tapi mereka profesional. Mereka mendengarkan keluhan, menjawab dan menjelaskan. Mereka tidak memberi tindakan berlebihan untuk penyakit-penyakit kecil. Jarang ada dokter yang memberi antibiotik kalau pasien 'cuma' sakit flu. Kami punya waktu minimal 15 menit di ruang prakter dokter, bisa lebih apabila diperlukan. Mengapa? Karena dokter tidak menerima uang langsung dari pasien. Pemerintah menjamin seluruh layanan kesehatan penduduk dengan asuransi wajib (Medicare) yang dibayar lewat pajak. Layanan kesehatan dan obat tidak diperjual belikan seperti barang dagangan di pasar bebas.

Kami yang bukan penduduk sini memang wajib membayar biaya asuransi kesehatan, biayanya sekitar $380 per orang atau $760 untuk keluarga per tahun. Lumayan mahal kalau di kurs kan ke rupiah, tapi dengan harga segitu, seluruh perawatan kesehatan (kecuali mata dan gigi) ditanggung, rawat jalan maupun rawat inap, bahkan termasuk biaya persalinan.

Di Indonesia, biaya layanan kesehatan mahal, dan tidak ada jaminan pelayanan yang baik. Adakah calon presiden kita yang memikirkan desain layanan kesehatan dan regulasi perdagangan obat yang memihak rakyat?

Ah, sudahlah, segini dulu. Ini Ayesha masih rewel habis disuntik imunisasi. Semoga Anda yang membaca tulisan ini selalu sehat dan tidak pernah berurusan dengan dokter atau rumah sakit yang buruk.

A.K.
Oh, ya, tentu saja saya turut mendukung Ibu Prita di facebook.



Blog EntryMengintip Sekolah AnindyaMay 26, '09 12:16 AM
for everyone
Hari ini ada open house di sekolah Anindya (7 tahun), berikut pameran karya seni dan parents brunch.

Acara open house semacam ini memberi kesempatan pada orang tua murid untuk melihat kegiatan belajar mengajar di kelas. Tentu saja kesempatan seperti ini tidak kami lewatkan. Sebelum mengintip ruang kelas, kami melihat-lihat pameran karya seni murid-murid Hampden Park Public School (HPPS). Setiap siswa menampilkan satu karya mereka, entah itu lukisan, kolase, sketsa, gambar atau karya seni rupa yang lain. Tiap kelas mempunyai tema tersendiri. Tema kelas Anindya adalah membuat lukisan vas bunga.

Hasil kreativitas anak-anak usia SD ini sungguh mengagumkan. Mereka tidak takut untuk mengeluarkan ide mereka dalam bentuk karya. Beberapa kelas mengambil tema Picasso. Dari tema Picasso saya menjumpai karya sketsa dan kolase yang unik. Mungkin tema Picasso ini cocok untuk anak-anak karena mereka tidak terintimidasi untuk membuat lukisan atau karya yang "indah" dan "sempurna".

Saya jadi ingat zaman SD dulu. Saat pelajaran seni, kami semua menggambar dua gunung berapi dengan matahari di tengah dan persawahan di bawahnya. Saya takut untuk menggambar yang lain karena gambar gunung kembar itulah yang dicontohkan oleh guru. Saya juga takut kalau gambar saya nanti jelek dan tidak seperti aslinya. Tapi mungkin anak SD zaman sekarang di Indonesia sudah lebih ekspresif dan berani. Gambar-gambar Anindya ketika sekolah di Sekolah Alam Insan Mulia Surabaya dulu juga tidak melulu pemandangan dengan latar belakang gunung.

Para pengunjung pameran diperbolehkan membeli karya seni anak-anak seharga $ 1. Tentu saja kami membeli karya anak kami sendiri, hehehe. Menurut saya pameran seperti ini adalah ide yang bagus. Disamping meningkatkan rasa percaya diri untuk anak-anak dalam berkarya, juga meningkatkan apresiasi orang tua terhadap kerja keras anak.

Ketika menengok kelas Anindya, mereka sedang membahas buku The Twit karya Roald Dahl. Anak-anak disuruh bekerja berpasangan dan menulis kalimat apa kira-kira yang akan diucapkan Mr Twit kepada lawan bicaranya. Tiap dua anak menggunakan satu laptop, jadi belajar bahasa Inggris sekaligus belajar menggunakan komputer. Menurut saya, fasilitas ini lumayan mewah, atau glamour, istilah Adik Saya. Kerja berpasangan seperti ini sangat membantu Anindya yang tadinya belum berani bicara di dalam kelas menjadi sedikit lebih berani. Maklum, Anindya takut berbicara di depan banyak orang. Jadi kalau cuma harus bekerja dengan satu orang lain, Anindya lebih nyaman.

Selesai mengintip kelas, kami berkumpul di selasar untuk acara Parents Brunch. Untuk acara ini setiap orang membawa satu piring makanan. Saya membawa martabak dengan kulit roti chappati (kapan-kapan resepnya saya bagi). Di meja saji terhidang banyak jenis makanan tradisional, kebanyakan dari Bangladesh dan Lebanon.

Begitu acara dibuka oleh Kepala Sekolah, kami langsung menyerbu meja saji. Saya mengambil satu satu setiap makanan yang terhidang, yang bentuknya lumayan menarik. Di piring saya ada Lebanese Pizza dengan sujuk, dua kue mirip lumpia tapi bentuknya segitiga, kue mirip martabak, kue bolu biasa untuk Ayesha, kue seperti apem, sejumput nasi biryani dan kue berbentuk bola putih yang ternyata manis banget. Saya beranikan diri untuk mencicipi makanan-makanan aneh yang saya tidak tahu namanya itu. Ada yang lumayan, ada yang rasanya tawar, ada juga yang "cuih" terlalu banyak bumbu. Memang ciri khas masakan Asia Kecil adalah bumbu-bumbu yang tajam. Yang paling enak menurut saya sih tetap martabak. Tapi belum sempat saya ambil, martabak saya sudah lenyap, laris manis.

A.K.

Foto-foto bisa diklik di sini.

Blog EntryOleh - Oleh Dari Sydney Writer's FestivalMay 25, '09 2:09 AM
for everyone
Saya sudah pesan jauh-jauh hari ke Nino untuk menjaga anak-anak agar saya bisa ikut satu kelas Sydney Writer's Festival.

Sebenarnya banyak sekali kelas yang bisa diikuti, mengingat festival ini menghadirkan ratusan penulis lokal dan internasional. Cakupan tema yang digulirkan juga luas, dari kepenulisan buku anak-anak dan remaja sampai kepenulisan tentang penduduk pribumi. Dari buku tentang musik, makanan, skenario, puisi, perjalanan sampai buku sejarah dan politik.

Acara ini diadakan di Sydney Dance Company, semacam sekolah tari di Walsh Bay, sebelah jembatan Sydney yang terkenal itu. Tempatnya asyik, cocok untuk duduk-duduk minum kopi dan makan kue-kue sambil ngobrolin buku-buku terbaru.

Di hari terakhir festival, saya berkesempatan mengikuti diskusi panel dengan tema:
Don’t Tell the Teenagers: Young Adult Fiction That’s "Too Hard" for Young Adults. Pembicaranya adalah tiga orang penulis novel remaja kenamaan: Mal Peet (UK), MT Anderson (US) and Margo Lanagan (Aussie). Biar nyambung dan nggak bengong di kelas, saya sudah mencari (dan membaca) buku mereka yang saya pinjam dari perpustakaan.

Diskusi berlangsung satu jam. Inti diskusi mereka adalah bagaimana memposisikan bacaan remaja. Apakah penulis novel remaja harus mengikuti selera dan tren saja atau mereka bisa menulis untuk menggelitik pikiran dan imajinasi remaja. Anderson, yang novel remajanya Octavian Nothing, dikritik sebagai novel yang terlalu berat untuk remaja, membela diri dengan mengatakan janganlah kita terlalu meremehkan kemampuan membaca mereka. Banyak remaja yang meneruskan membaca 'buku-buku berat' mes
kipun mereka belum mengerti sebagian isinya karena ingin tahu dunia dewasa yang akan mereka masuki.

Menarik juga mengikuti diskusi semacam ini, meskipun saya masih tertatih-tatih mencoba mengerti maksud dibalik kosakata canggih bahasa Inggris mereka. Anindya langsung bosan begitu masuk ruangan. Dia berusaha keras menyibukkan diri dengan mainan pixel chix-nya selama satu jam. Untung Ayesha tidur di stroller sehingga Nino bisa masuk, menjadi juru foto dan penerjemah pribadi.

Dua tahun yang lalu ada penulis dari Indonesia yang diundang: Ayu Utami dan seorang penyair dari Bali, saya lupa namanya. Saya sudah datang ke acara tersebut, ternyata kelas Ayu Utami dibatalkan, nggak tahu alasannya apa. Sayangnya, untuk tahun lalu dan tahun ini, tidak ada penulis dari Indonesia yang diundang.

Sebenarnya setelah kelas yang saya ikuti, masih ada kelas yang menarik: The Secret of Writing Fantasy for Young Adult. Saya pengen ikut, tapi anak-anak sudah capek. Akhirnya kami lihat-lihat sebentar toko buku sponsor festival ini kemudian pulang. 

Acara ini ada setiap tahun. Jadi kalau ada teman-teman yang mau ikut, mampirlah ke Sydney sekitar bulan Mei. Nanti saya antar ke writer's festival dan saya traktir kopi.

A.K.
foto-foto yang lain silakan diklik di sini.



Blog EntryTemuan di Pinggir JalanMay 20, '09 1:50 AM
for everyone
Orang sini biasanya meletakkan begitu saja barang-barang yang sudah tak terpakai lagi di depan rumah mereka. Kalau ada barang-barang yang ditaruh di luar pagar, berarti sudah milik umum, siapa saja boleh mengambil.

Ketika kami pertama kali datang ke Sydney, kami sering sengaja jalan-jalan untuk 'memulung' barang-barang bekas. Banyak yang kondisinya masih bagus. Alhasil, apartemen kami waktu itu penuh dengan barang-barang temuan seperti rak DVD, meja lukis, boneka, bahkan kasur.

Sekarang sih kami tidak begitu bernafsu untuk menjadi 'pemulung'. Maklum, sudah lebih tahu di mana bisa cari barang-barang bagus dengan harga murah. Tapi minggu kemarin saya melihat stroller bagus tergeletak begitu saja di pinggir jalan. Saya tidak tahan untuk tidak memungutnya (setelah tengok kanan kiri dan memastikan bahwa keadaan aman, hehehe). Masih bagus sekali, nyaris seperti baru. Stroller seperti ini kalau baru harganya sekitar $200 an. Saya sampai bingung menerka mengapa barang sebagus ini dibuang. Memang waktu itu ketiga rodanya kempes. Kami perlu memompakan di tukang sepeda.

Ya sudah, memang rezeki Ayesha tampaknya.

A.K.
keterangan foto: yang saya temukan di jalan stroller-nya, anaknya saya bikin sendiri (eh, maksud saya berdua, hehehe)

Blog EntryBaca Koran PagiMay 18, '09 6:12 PM
for everyone
Dengan adanya teknologi e-paper, kami sekarang bisa baca Kompas cetak pagi-pagi, lebih dulu dari pelanggan di Indonesia. Asyiknya lagi, layanan ini gratis.

Syaratnya tentu saja sambungan internet dengan kecepatan tinggi. Sambungan internet pita lebar kami saat ini mencapai 2.375 kpbs (barusan saya cek, mohon maaf kalau ada yang iri ^_^). Dengan kecepatan seperti itu dibutuhkan sekitar 30 detik untuk membuka setiap halaman koran.

Sebelum ada e-paper, kami sudah lumayan puas mengintip berita tentang Indonesia di kanal-kanal berita online. Tapi, rasanya kok lebih mantap kalau membaca koran tradisional, halaman per halaman. Saya juga kangen membaca koran minggu dengan cerpen dan benny&mice-nya. Nino juga terpuaskan membaca opini dan mengkritik segala macam huru-hara politik. Sudah saya bilang agar dia memulai menulis blog, daripada hanya saya yang menjadi pendengar setia komentar-komentar cerdasnya, tapi ya, memang calon phD yang satu ini sibuk sekali .

Saya tidak perlu kecewa salah menerima suplemen seperti Adik saya yang tinggal di perbatasan Jogja - Jateng, karena saya bisa membaca suplemen dari SEMUA daerah. Saya bisa mengintip apa kabar Sultan setelah nggak jadi nyalon presiden. Juga kabar Pakdhe Karwo sedang sibuk menggusur (maaf, menata) kampung Surabaya bagian mana. Saya kadang juga iseng mengamati iklan-iklan tanah atau rumah dijual di Jogja (hehehe, siapa tahu dapat rejeki nomplok...).

Nikmat sekali rasanya bisa baca koran pagi, ditemani teh panas dan ubi goreng.

A.K.


Blog EntryBBQ PartyMay 14, '09 1:38 AM
for everyone
Karena cuaca sudah mulai dingin, memasuki winter, saya memprovokasi beberapa teman untuk mengadakan pesta barbekyu (gimana ya ejaan resmi dalam Bahasa Indonesia nya?). Memang musim dingin begini enaknya bakar-bakar. Minggu kemarin jadi juga kami serombongan bakar-bakar di Federal Park, Glebe.

Orang Aussie suka sekali barbekyu-an. Mereka biasa menyingkat Barbecue menjadi Barbie. Bisa dikatakan masakan khas mereka adalah BBQ (mungkin lebih enak disingkat begini ya?). Dari pengalaman saya ikutan BBQ ala Aussie dan ala Indo, inilah beberapa catatan perbedaannya.

1. Peserta
Bule biasanya lebih sedikit pesertanya, hanya 2-4 keluarga. Kecuali bule campur seperti Italia atau Yunani yang memang suka kumpul-kumpul. Bandingkan dengan orang Indo yang rasanya nggak seru kalau pesta cuma orang sedikit. Kalau perlu orang sekampung ikut semua. BBQ kami minggu lalu dihadiri 12 keluarga.

2. Lokasi
Bule biasanya punya rumah dengan halaman belakang yang luas untuk pesta BBQ. Sementara pelajar seperti kami biasanya memakai fasilitas taman yang ada alat BBQ-nya. Fasilitas umum ini gratis, tinggal datang pagi-pagi saja agar nggak keduluan yang lain.

3. Makanan
Sosis bule lebih besar! Literally. Biasanya mereka memanggang sosis, lamb chop (domba muda), daging sapi dan babi. Kami tentu saja tidak memasukkan daging babi ke dalam menu. Haram, kata MUI. Orang bule juga suka memanggang sayuran, seperti: pumpkin, eggplant, zucchini, zucchini flower, paprika, asparagus dll. Sementara kami, sukanya bakar jagung dan ketela.

4. Bumbu
Ini dia perbedaan kuncinya. Orang bule lebih suka memakai bumbu madu, lemon dan macam-macam herb seperti: rosemary, dill, parsley, basil dan coriander. Sementara daging kami, tentu saja berlumur bawang putih, bawang merah dan kecap manis. Tak lupa dimakan dengan saus sambal. Bisa dibayangkan lebih sedap yang mana kan?



A.K.
provokator resmi BBQ pelajar Indonesia di Sydney 2009

Blog EntryMother's DayMay 11, '09 9:22 PM
for everyone
Di Australia, hari ibu diperingati setiap minggu kedua bulan Mei. Hari Minggu yang lalu, Anindya bangun pagi-pagi untuk memberi kejutan hari ibu untuk saya.

Saya mendapat kartu di dalam piring kertas cantik dan magnetic note untuk ditempel di kulkas. Wah, cocok sekali dengan profesi saya sekarang sebagai penulis daftar belanja mingguan, hehehe. Anindya membuat kartu dan membeli hadiah ini di sekolah. Kartunya berbunyi seperti ini:
"Dear Mum. Thak you for yor help. I want to have a caravan do you mum? I like what you treat me. I have a give for you in the box."

Soooo sweet I wanna cry. Oh, about the caravan, I'll tell you later .

Di sini, perayaan hari ibu lebih personal. Setiap orang mengucapkan selamat hari ibu dan memberi hadiah kepada ibu masing-masing. Tradisi memberi hadiah kepada ibu di hari ibu ini seperti tradisi memberi hadiah natal. Bisa ditebak, toko-toko di Mal berlomba memberi diskon dan harga spesial untuk produk-produk wanita. Begitu juga toko bunga yang jadi ramai pesanan.

Di sekolah Anindya, diadakan bazar hari ibu. Semua siswa diharapkan membeli hadiah untuk ibu mereka masing-masing. Karena ini acara anak-anak SD, harga hadiahnya tentu tidak terlalu mahal, mulai $1 sampai $15. Saya tahu hadiah saya seharga $3, karena Anindya meminta uang ke kami untuk membeli hadiah tersebut, hehehe.

Di Indonesia, peringatan hari ibu setiap 22 Desember lebih umum. Tidak ada tradisi mengucapkan selamat kepada ibu masing-masing dan tanpa tradisi memberi hadiah. Tanggal 22 Desember dipilih karena pada tanggal tersebut, tahun 1928 diadakan Kongres Perempuan Indonesia yang pertama di Yogyakarta. Mungkin lebih cocok kalau tanggal tersebut dijadikan Hari Perempuan Indonesia, mengingat perayaan masal yang lebih kepada kegiatan-kegiatan kewanitaan, bukan pada hubungan personal ibu dan anak.

Saya sempat membaca tentang orang-orang yang menolak perayaan hari ibu di Indonesia. Menurut mereka, seharusnya kita memuliakan ibu setiap saat, bukan hanya setahun sekali setiap hari ibu saja. Janganlah kita meniru budaya Barat yang hanya ingat ibu setiap hari ibu saja.

Pendapat di atas ada benarnya juga. Kita memang harus memuliakan ibu setiap saat, bukan hanya setahun sekali. Tapi, di budaya Indonesia, apalagi Jawa (latar belakang saya), jarang ada kesempatan bagi kita untuk mengucapkan terimakasih kepada ibu, atas peran mereka. Atau sekedar mengucapkan "I love you, Mom." Hubungan saya dengan ibu saya lebih ke hubungan patuh, hormat dan berbakti. Ibu saya mungkin akan salah tingkah kalau saya bilang saya sayang padanya. Jadi, kami biasanya memeluk atau mencium tanpa kata-kata.

Menurut saya, peringatan hari ibu sah-sah saja. Kita jadi mempunyai kesempatan untuk mengungkapkan rasa sayang dan terimakasih kita, tanpa harus merasa canggung.

A.K.

Blog EntryNasi GorengMay 7, '09 10:45 PM
for everyone
Dulu saya tidak tahu kalau makanan khas Indonesia adalah nasi goreng. Saya baru 'ngeh' setelah tahu nasi goreng begitu populer di Sydney.

Orang sini menyebut dan menuliskannya: Nasi Goreng, bukan fried rice. Mereka melafalkannya dengan 'go' yang panjang, menjadi nasi goooreng. Masakan khas Indonesia ini, selain menjadi menu wajib di warung Indonesia, juga menjadi menu sarapan pagi di kafe-kafe.

Suatu ketika saya makan siang di Marrickville Post Cafe (hehe, gaya banget ya?). Saya deg-degan juga karena baru kali ini saya memberanikan diri makan di kafe. Sendirian dan hamil besar lagi. Biasanya saya ke kafe cuma beli kopi, itu aja kafe yang di pinggir jalan. Kafe-kafe di sini biasanya mempunya 2-3 menu pilihan untuk setiap jam makan. Saya lihat di daftar menu untuk hari ini, ternyata menu sarapannya adalah Special Nasi Goreng: fried rice with shredded chicken and spring onion, topped with fried egg. Batin saya, kalau cuma begitu mah saya bisa bikin sendiri di rumah, nggak perlu ke kafe. Untung saya datang untuk makan siang. Akhirnya saya pilih menu yang ini: "Salt and pepper squid served with kumera and rocket salad". Artinya: cumi-cumi goreng tepung diberi taburan lada hitam dan garam, disajikan dengan potongan ketela rebus dan lalapan daun pahit. Lumayan enak sih, cuman enggak kenyang.

Selain nasi goreng, masakan Indonesia lain yang populer di sini adalah Gado-gado. Mereka juga melafalkannya gado-gado. Biasanya di restoran atau di buku resep ditulis keterangan: vegetable salad with peanut dressing. Yang juga populer adalah kecap manis dan Indomie. Kecap manis biasa digunakan di resto-resto Asia seperti Cina, Thailand dan Vietnam. Sementara Indomie goreng bisa dibeli di mana-mana, mulai di supermarket besar sampai warung kepunyaan orang Arab atau Bangladesh. Indomie banyak disukai karena harganya murah, hanya 45 sen, separuh dari harga mie instan lainnya, sementara rasanya jauh lebih enak.

Jadi jangan heran kalau suatu saat Anda mengunjungi Sydney ada yang bilang begini, "Are you from Indonesia? Apa kabar? I like Nasi Goooreng."

A.K.



Blog Entry[Marrickville Library Book Sale] Borong Habis!May 6, '09 1:32 AM
for everyone
Mata saya berbinar-binar dan jantung saya berdebar kencang begitu melihat spanduk 'Book Sale'.

Marrickville Library Book Sale adalah event tahunan yang selalu kami tunggu-tunggu. Pasar buku seperti ini menjual buku-buku bekas yang tidak diinginkan oleh perpustakaan lagi. Tapi, buku bekas di sini masih bagus-bagus loh, dan tahun terbitnya juga banyak yang masih baru, bukan dari dekade yang lalu. Jangan dibayangkan buku-buku yang sudah menguning atau berdebu.

Harganya super murah, bahkan kalau dibandingkan dengan buku-buku baru di Indonesia. Buku anak-anak, fiksi dan non-fiksi hanya 50 sen. Ini termasuk buku-buku ilmu pengetahuan serial Collins Eyewitness dan DK. Ada juga kamus bergambar, ensiklopedia dan tak ketinggalan serial Harry Potter.

Buku-buku fiksi untuk dewasa dijual $1 dan buku non fiksinya masing-masing $2. Meskipun super murah, saya hanya membeli buku-buku must have dari pengarang favorit saja: Jodi Picoult, Candace Bushnell, Judy Blume, Enid Blyton, Sophie Kinsella, Meg Cabot dan Melina Marchetta. Saya juga menemukan buku-buku non fiksi untuk psikologi perkembangan anak dari Stephen Covey dan John Gray. Tadinya saya tidak begitu suka membaca buku-buku ini, tapi... siapa tahu memang ada gunanya, terutama untuk perkembangan Anindya yang beranjak pra remaja.

Harta karun yang saya temukan kali ini adalah novel Saving Francesca karya Melina Marchetta (buku teenlit yang juga sudah diterjemahkan ke Bahasa Indonesia), Harry Potter and the Philosopher's Stone (huah, lengkaplah sudah koleksi Harpot kami) dan CD Boys Two Men tahun 1993 seharga 50 sen (jadi ingat kenangan masa SMP, hehehe).

Saya senang kali ini Nino tidak protes atau mensortir buku-buku pilihan saya. Dia hanya bertanya ketika saya memasukkan setumpuk buku-buku Lonely Planet ke keranjang belanja. "Kenapa sih kok kamu suka serial Lonely Planet?" Hehehe, "They looked good in the bookshelves, Darling. Besides, I want to preserve my dreams to travel around the world."


Akhirnya, perburuan kami menghasilkan dua kardus dan satu keranjang buku, kebanyakan buku-buku science untuk Anindya. Nino berulang-ulang menghitung total harga belanjaan kami. Saya juga was-was takut mengeluarkan uang terlalu banyak. Eh, ternyata 'hanya' $51.50 untuk semua buku-buku itu.

A.K.



Blog EntryNgangkring di Mc DonaldMay 3, '09 9:07 PM
for everyone
Pengen makan di luar dengan dana pas-pas an? Datanglah ke Mc Donald.

Di Indonesia, hanya orang yang berduit yang sanggup makan di Mc D. Rasanya keren bisa makan di restoran cepat saji itu. Tapi di sini, Mc D adalah restoran dengan harga makanan paling murah, yah, mungkin pamornya sejajar dengan angkringan di Jogja.

Sepotong cheeseburger harganya 'hanya' $1.95, bisa dibeli dengan uang receh. Happy Meal favorit Anindya bisa dibeli seharga $4.25. Menu lengkap: burger, kentang goreng bertabur garam dan coke harganya di bawah $5. Soft Ice Cream-nya yang terkenal itu, hanya 80 sen.

Memangnya berapa sih harga makanan yang lain? Di sini, makanan harganya rata-rata $6 - 7. Misalnya doner kebab, sepotong pizza, masakan cina (satu porsi nasi dengan 2 macam lauk), 1/4 ayam barbecue, sepiring salad, sepotong sandwich, atau burger beneran (artinya burger lain selain Mc D). Itu belum dengan minumnya loh. Sebotol air mineral 600 mL harganya $2, lebih mahal dari seliter bensin yang hanya $1,2. Tapi apa iya mau minum bensin? Kalau nggak mau sakit hati membeli air mineral seharga segitu, harus siap-siap air sendiri dari rumah, atau membeli teh kotak seharga $1.10 di toko Indo. Yang ini lebih segerrrr.

Saking murahnya harga makanan di Mc D, saya sampai penasaran, apa yang disajikan itu makanan beneran. Memang sih, burgernya sama saja dengan burger yang dijual di Indo. Dagingnya sama tipisnya. Nyaris nggak ada sayuran, hanya sepotong acar mentimun, selembar keju tipis dan sedikit saus tomat. Tentu saja nggak sehat sama sekali. Kenyangnya pun hanya sebentar. Beda sekali dengan burger beneran yang dijual di warung lain. Ketebalan dagingnya lebih serius, sekitar 1 cm. Juga dilengkapi dengan sayuran segar seperti bawang bombay, selada, tomat, mentimun dan daun-daun lain yang saya tidak tahu namanya. Kejunya juga keju cheddar yang tidak gampang meleleh.

Di Mc D sendiri ada menu yang mirip burger beneran ini, tapi lebih kecil, namanya Lean Beef Burger. Ini burger favorit saya, yah, bisa dibilang sedikit lebih sehat lah. Karena kalau makan cheeseburger standar, saya belum kenyang. Nggak asyiknya di Mc D sini, nggak ada menu nasi atau ayam. Juga nggak bisa ambil saos tomat sendiri, harus request dulu. Yang lebih parah, saos sambal harus bawa sendiri dari rumah.

A.K.

Blog EntryTelevisi untuk AnindyaMay 2, '09 7:06 AM
for everyone
Saya dan Nino bukan penggemar televisi. Buktinya, sewaktu tinggal di Marrickville (2007 - 2008), hidup kami baik-baik saja dengan televisi ber-antena rusak. Tidak ada yang berniat memperbaiki atau membeli yang baru.

Tapi kadang kami perlu televisi untuk hiburan bagi Anindya (7 tahun), yang cepat sekali bosan meskipun sudah punya nintendo wii, puluhan DVD dan seorang adik.

Untungnya, di sini mudah menemukan siaran bermutu untuk anak-anak. Misalnya ABC, televisi pemerintah, mempunyai program ABC Kids yang tayang pagi, jam 6 - 10, dan sore jam 3 - 5.30. Program-program yang ada di sini antara lain Bananas in Pyjamas, Play School, The Wiggles Show, In The Night Garden (favorit Ayesha) dan Shaun The Sheep (favorit saya). Bagusnya, tayangan di ABC tanpa iklan sama sekali.

Di luar jam tersebut biasanya Anindya tidak menonton TV. Atau, kalaupun menonton, harus program yang klasifikasinya G (general) atau PG (parental guidance). Tentu saja untuk program yang kedua, orang tuanya harus benar-benar mendampingi nonton. Di sini, semua program punya klasifikasi yang ditayangkan sesaat sebelum program dimulai, disertai dengan peringatan terhadap isi tayangan. Jadi sebelum menonton, kami tahu apa tayangan tersebut ada adegan kekerasannya, bahasa yang kasar, adegan penggunaan narkoba, adegan bunuh diri, adegan bugil atau adegan sex. Semua tayangan yang berisi adegan yang saya sebutkan tadi klasifikasinya M atau MA (mature audience). Untuk menegakkan aturan menonton di rumah, kami juga harus disiplin mematikan televisi kalau kami sedang nonton tayangan dewasa dan tiba-tiba Anindya nongol. Untungya Anindya juga disiplin dan tidak begitu tertarik dengan tayangan untuk dewasa.

Di Indonesia, repot sekali memilih tayangan untuk anak-anak. Setahu saya, tidak ada jam menonton khusus untuk anak-anak kecuali hari Minggu, itu pun penuh dengan iklan yang bikin anak-anak rewel minta ini itu. Alhasil, tayangan favorit Anindya waktu di Surabaya adalah Abdel dan Temon. Gawat kan? Klasifikasinya apa tuh? Padahal saya sendiri tidak pernah menonton (apalagi kecanduan) sinetron. Untungnya, Tante dan Om tempat kami menumpang mengambil langkah berlangganan Indovision, sehingga Anindya bisa nonton Disney Channel, Disney Playground, Nickelodeon dan Cebebies yang menurut saya lebih 'aman' daripada sinetron Indonesia.

A.K.

Pages:1234567

Online Casino Reviews
Neteller
© 2009 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corporate · Advertise · Contact · Help